Kalau begitu mungkin agan pernah denger game Amnesia : Dark Descent (CMIIW yah, maklum bukan penggemar game horror)
Jadi begini ceritanya. Seperti yang saya bilang sebelum-sebelumnya, saya ini penakut. Tapi teman baik saya, sangat menyukai game horror, bahkan cenderung menggilai type2 game thriller seperti itu. (sampe semua dinding kamarnya ditempelin poster game horror- Ajigile makkk)
Dan kesukaan dia itu adalah ngajak temen baiknya yang penakut (siapa lagi korbannya kalo bukan saya) untuk namatin game horror yang dia baru beli, yang kadang ampe maksa saya nginep 2-3 hari.
dan kali ini game yang dia baru beli itu namanya Amnesia : the Dark Descent (sekali lagi CMIIW yak)
Kurang lebihnya, game ini ceritanya semacam seseorang yang berkelana di semacam dungeon gitu. Saya gak begitu perhatiin, tapi intinya kata temen saya spesialnya ini game karena player gak bisa bunuh monster lawannya cuman bisa kabur n ngumpet sampe musuhnya pergi.
Dari awal ni game dimulai, feeling saya udah gak bener. Secara langsung hawa jadi berat gitu.
Belom lagi seremnya ni game, katanya kalo udah ketemu monsternya uda pasti gak selamat, jadi harus deteksi dari suara n kabur secepatnya sebelum ketemu monsternya.
Jadi selama game dimainkan oleh temen saya, dimulai jugalah keanehan-keanehan yang muncul di sekitar kami (tapi temen saya bilang dia enggak sadar kalo ada yang aneh, soalnya lagi seru maen)
Begitu tutorial awal game selesai, tiba-tiba lampu kamar kedip-kedip dan akhirnya mati.
"WTF!!" teriak saya kaget.
teman saya tidak bergeming dan masih asyik meneruskan gamenya. "Udah biarin, malah makin seru kan, lagian gua gak ada lampu ganti"
"Bro, gue kaga ikutan dah mendingan, feeling kaga enak nih" kata saya pada teman saya itu.
"Yehh, cemen amat lu, cewek lu aja kebal ama beginian" sahutnya.
"Dia bukan cewek gue" kata saya
"yahh, blom aja kan? makanya lu penakut banget sih" sahutnya lagi sambil terus fokus pada gamenya.
Saya tidak sempat menjawabnya karena tiba-tiba musik pada game berubah.
Kalau tidak salah tampilan game itu sedang pada sebuah kamar, yang ada lemari di ujungnya.
"Wow!!" pekik teman saya ketika terlihat di layar game sesosok tubuh terseok-seok menaiki tangga dan menuju kamar tempat playernya berada.
Teman saya segera melarikan playernya untuk bersembunyi di lemari.
Bertepatan dengan itu, saya mendengar bunyi "kriiett.. kriett.." khas yang saya tau berasal dari tangga kayu di rumah teman saya itu.
"!! lu denger gak barusan?!" tanya saya
"Iya, gila tu monster bikin gua kaget!" jawab teman saya.
"Bukan, bukan dari game deh" gumam saya.
Tapi teman saya kembali fokus pada gamenya, musik sudah berubah kembali dan tidak terdengar suara apapun yang aneh.
Oh ya, saya menyadari juga kalau sepertinya tampilan pada game akan sedikit kabur kalau monster akan muncul.
Game dilanjutkan.
Beberapa kali setiap monster muncul, saya akan mendengar juga suara-suara atau bahkan beberapa kali terlihat bayangan yang melintas di depan jendela, dan itu aneh, karena kamar teman saya berada di lantai dua.
Player teman saya tiba pada tempat yang penuh dengan genangan air.
Berbarengan dengan perubahan musik dan layar yang menjadi kabur, bunyi kecipak air terdengar dari game dan saya yakin, kalau saya juga mendengar suara kecipak kecil dari kamar mandi yang berada di sebelah kamar tempat saya dan teman saya bermain.
Dari semua kejadian, yang paling mengerikan adalah ketika sosok monster yang tidak terlihat tapi membuat layar game menjadi sangat berkabut yang artinya monster itu sudah sangat dekat ditambah dengan musik yang menegangkan membuat temanku sedikit panik sehingga berlarian tidak karuan di dalam game, puncaknya adalah ketika sesuatu yang tidak terlihat itu mengeluarkan raungan.
Sampai akhirnya player tersebut berhadapan dengan monster lain dengan kepala terbelah dan membawa semacam golok pada tangannya.
Saat itulah saya melihat dengan jelas bayangan di jendela yang sedang mengintip ke dalam ruangan tempat kami berada.
Mahluk itu berbentuk bayangan hitam besar, dengan dua cahaya yang kurasa adalah matanya berwarna kuning kehijauan bersinar tidak bergerak.
Saya terdiam menatap bayangan itu. Kedua "mata" itu tidak bergeming juga menatap kearah kami.
Tatap menatap itu terus berlanjut sampai akhirnya handphone saya bergetar.
Sebuah pesan pendek dari Elisa "Ayanokouji, tolong jemput aku dong di xxxxx, bisa kan?"
"Oy, Tin (namanya Martin btw) si Lisa minta gue jemput dia nih, gue cabut ye" kataku sambil beranjak berdiri.
"Walah, princess lu minta jemput, yowes lah gue temenin deh yak? laper gue maen ni game" kata Martin
Segera teman saya itu save progress gamenya dan segera mematikan CPU PCnya (ooh pake PC bisa nyambung ke TV gede yah).
Tepat ketika kami berdua keluar dari ruangan itu, aku sempat melihat sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam ruangan yang kami tinggalkan bersamaan dengan saya menutup pintunya.
Kamipun menjemput Elisa, dan kemudian pergi mampir di KFC terdekat untuk mengisi perut Martin yang keroncongan.
Di KFC, Lisa berbisik ke saya, katanya "Ntar balik ke rumah Martin, bujuk dia jangan lakukan apapun yang kalian lakukan tadi" bisiknya dengan mimik serius.
Sayapun kaget mendengar Elisa berkata begitu, karena penasaran saya bertanya "Kok bisa tau?" tanyaku
"Soalnya tiba-tiba ada terlintas pikiran di aku, kamu dan Martin lagi ditempelin bayangan hitam"
Saya langsung merinding mendengar kata-kata Lisa itu, dan hanya bisa mengangguk paham.
Setelah kami mengantar Elisa pulang, kepalaku masih penuh dengan rencana bagaimana caranya membujuk temanku yang satu ini untuk tidak bermain game horror yang baru dibelinya ini...
Masalahnya kalau kubllang soal mahluk itu, bisa-bisa malah dia tertarik dengan kemungkinan bisa melihat penampakan itu.
Saya masih menimbang-nimbang alasan apa yang bisa saya pakai untuk menghentikan dia bermain ketika mendengar suara pekikan Martin
"WTF!!" teriaknya
Saya langsung lari buru-buru menuju Martin "Kenapa bro!?" tanya saya khawatir.
"Lu liat nih, f*ck kenapa bisa begini tiba-tiba?" ceracaunya sambil menunjukkan disc milik game Amnesia itu yang terbelah dua dengan rapih.
Martin terpaksa tidur dengan hati kesal malam itu, dan kemudian keesokan harinya dia berkata kepada saya dengan wajah pucat "Bro, kayaknya gua gak bakalan beli lagi deh tu game... mimpi buruk gue semalem..." katanya.
"Mimpi?" tanyaku.
"Iya mimpi gua lagi di dalem itu game" jelasnya.
"Bukannya lu malahan seneng biasanya?" tanyaku.
Martin menggeleng "Enggak juga kalau yang dimimpiin itu gue lagi dicincang-cincang ama semua monster di tu game, asli kagak enak banget tu mimpi" katanya.
Mimpi buruk itu berlanjut beberapa hari sampe akhirknya hilang dengan sendirinya.
Tapi kata Martin yang kuingat mengenai game itu adalah kalau di mimpinya ada seseorang yang berkata "Cerita ini adalah nyata"
