Nah, kejadian kali ini baru aja kemarin kejadiannya (Fresh banget nih!)
Yaitu pengalaman main game Augmented Reality yang lagi terkenal sekarang. Uda tau dong apa? Yup, P*kemon Go
Sebelum mulai cerita, saya harus kasitau dulu kalau saya tidak bermaksud untuk menjelek2an game ini atau hal negatif lainnya. Bahkan sebenarnya saya sudah bermain game ini cukup lama. baru kemarin saja terjadi hal yang rada2 ngeri.
Jadi begini ceritanya :
Malam Jumat kemarin daerah Jakarta entah kenapa macet total dimana-mana.
Memanfaatkan keadaan di mana saya sedang menebeng pulang dengan teman saya, sayapun menghidupkan game P*kemon Go itu.
Seperti biasanya juga, saya menikmati kemacetan dengan menunggu-nunggu kemunculan monster-monster kecil di game Augmented reality itu.
Kemacetan yang terjadi sangat parah, sehingga ketika mahgrib yang biasanya saya sudah sampai di rumah, kali ini masih terjebak di jalan, bahkan belum sampai seperempat perjalan terlewati.
Tapi dengan ditemani game P*kemon Go ini, kesabaran saya meningkat sampai tingkatan maksimum alias sama sekali tidak mengeluh.
Keanehan mulai terjadi ketika Adzan selesai berkumandang.
Jadi, untuk yang tidak bermain P*kemon Go, saya akan jelaskan sedikit mengenai game ini. Jadi game ini tuh mencari monster P*kemon yang bisa di dapat dari GPS. Ketika GPS mendapat signal adanya monster di dekat kita maka ponsel kita akan bergetar dan wujud monster itu akan terlihat.
BRRRTT
Ponsel saya bergetar. Tapi tidak terdapat satupun monster yang muncul di dekat saya.
"Wah, Error ni P*kemon gua error nih" komentar saya.
"Nape emangnya" tanya teman saya yang sedang menyetir.
"Tau nih, HP gua getar tapi gak ada keluar tu P*kemon" jawab saya.
"Error kali gara-gara macet" kata teman saya cuek.
"Ah iya kale nih" sayapun mematikan aplikasi game itu.
BRRRTTTT
Tidak lama mobil berjalan ponsel saya bergetar lagi. Getaran khas dari game P*kemon Go.
Aneh.. pikir saya.
Game itu tidak akan mendeteksi adanya monster P*kemon dalam dalam keadaan keluar dari game, bahkan deteksi monster hanya bisa dilakukan apabila layar dalam keadaan menyala saja (tidak bisa deteksi dalam layar off meskipun belum keluar dari aplikasi).
Kemudian saya ambil ponsel dan melihatnya.
Benar ah, masih layar off kok.
Kemudian saya buka kunci layarnya.
Game itu kembali terbuka, padahal saya yakin sekali kalau saya sudah menutup aplikasi game itu tadi.
BRRRTTT!!
BRRRTTT!!
BBBRRRTTT!!
"Wohoo, panen ya lu?" komentar teman saya mendengar getaran-getaran khas penanda kemunculan monster pada game itu terjadi berulang-ulang pada ponsel saya.
"Kaga ada P*kemonnya cuy, beneran error kali nih" jawab saya.
"Wakakaka, suwe kali lu, wah jangan2 si P*kachu keluar tuh" goda teman saya mengatakan salah satu monster langka di game itu.
"Iya kale, suwe nih" kataku lagi, sekali lagi aku menutup aplikasi itu dan meletakkan ponselku di pinggiran pintu mobil.
BBBRRTTTTTTT!!!!
BBBBRRRRRTTT!!
BBBRRRRRRTTTT!!!
BBBBBBRRRTTTT!!!
Ponsel saya kembali bergetar, kali ini bahkan getaran penanda itu lebih banyak dari sebelumnya.
Dan saat itu kami baru saja melewati salah satu rumah duka yang cukup terkenal, mungkin kalau saya sebutkan namanya akan langsung ketahuan. Karena itu saya akan rahasiakan.
"Nongol lagi tuh P*kemon" kata teman saya.
Sekali ini saya benar-benar yakin aplikasi sudah saya tutup, tapi saya masih mencoba berpikiran positif dan berpikir kalau mungkin memang benar ponsel saya yang error.
Kembali saya buka kunci layar ponsel saya.
Dan ya, game P*kemon itu kembali terbuka'
"Wew.. HP gue error beneran" kata saya kesal. Kemudian saya memilih mematikan ponselku.
Kurang lebih beberapa jam kemudian, tepatnya jam 9 malam, Saya baru sampai di rumah.
Setelah mandi dan bersiap tidur saya baru teringat ponsel saya.
Takut ada teman saya atau siapapun mencari saya, atau mungkin saja Elisa mencari saya (#ngarep) saya kembali menghidupkan ponsel saya.
Selesai Loading boot screen, dan ketika ponsel saya menampilkan home screen, getaran-getaran itu terjadi semakin banyak dan lebih keras daripada tadi.
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
Getarannya sangat kencang, bahkan telapak tangan saya sedikit mati rasa karena getarannya itu.
Getaran-getaran itu terus menerus terjadi, dan tanpa saya menekan apapun pada ponsel saya, aplikasi P*kemon itu terbuka dengan sendirinya.
"WTF?" umpat saya.
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
Ponsel saya bergetar semakin keras, dan pada saat yang sama, saya merasakan seakan dada saya diremas dan merasakan rasa panik yang tiba-tiba datang.
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
BBBBBBBRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTT!!!
Ponsel saya bergetar dengan kencang 3 kali sebelum akhirnya tenang.
Aplikasi P*kemon juga tertutup dengan sendirinya. Atau daripada dikatakan tertutup, lebih tepat kalau mengatakan ketika saya berkedip, tiba-tiba layar ponsel yang menampilkan game P*kemon itu berganti ke layar yang menampilkan home screen ponsel saya.
Belum sempat saya mempertanyakan mustahilnya aplikasi dapat menutup secepat itu, tiba-tiba udara ruangan turun sangat drastis.
GRRKK...
GRRRK...
GRRRK...
terdengar suara yang datangnya dari bawah kasur saya.
Tiba-tiba, tempat tidur saya berguncang dengan hebatnya, bagaikan terguncang oleh gempa bumi dengan skala yang sangat besar. yang membuat saya harus memegang erart kasur saya agar tidak terlempar.
"Aaahhhhhh!!?" teriak saya panik.
Kasur saya terus berguncang.
Ponsel saya terlempar dari kasur ke lantai.
Guncangan pada kasur saya berhenti dengan mendadak,
BBBRRRRTT!!
BBRRRTTT!!
BBRRRTT!!
Ponsel saya kembali bergetar.
Menahan rasa takut, saya turun dari kasur dan mengambil ponsel saya yang terjatuh di lantai.
Mati..
Ponsel saya dalam keadaan mati, bagaimana bisa ponsel ini bergetar?
dari layar hitam ponsel yang mati itu, saya melihat pantulan dua pasang mata berwarna merah yang sedang berdiri di atas kasur saya.
Kemudian dari bawah kedua mata merah itu, perlahan-lahan terbentuk senyuman dan deretan gigi yang besar.
Dari pantulan di layar ponsel, saya melihat kedua mata itu mendekati saya dengan perlahan. Cengiran yang diperlihatkannya semakin lebar.
Semakin dekat..
Sampai akhirnya saya melihat kedua mata merah itu tepat di belakang saya.
Saya tidak dapat bergerak selama kedua mata itu seakan melihat saya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kemudian dia memberikan senyumannya lagi.
Saya merasakan rasa takut yang amat sangat bersamaan dengan saya merasakan sesuatu menyentuh punggung saya. Ketakutan yang seakan-akan membuat saya ingin meringkuk dan bersembunyi.
Terdengar suara tertawa sayup-sayup.
Dan saya terbangun dari tidur saya.
Badan saya dibanjiri oleh keringat dingin saat terbangun.
"Ah.. sh*t... cuman mimpi rupanya.." kataku lega sembari menyeka keringat dinginku.
Aku melihat sekeliling kamarku.
"Sh*t" umpatku ketika menyadari posisi kasurku yang sudah miring seperti yang terjadi pada mimpiku, miring ketika kasurku terguncang.
Dan ponselku yang masih terletak di lantai. Saya melihat ada notifikasi pesan L*ne masuk.
Saya mengambilnya dan melihat ada satu pesan dari Elisa ditambah beberapa misscall darinya.
Pesan L*ne itu adalah :
BANGUN!!
