Diary - Catatan seseorang yang bisa melihat Mereka (Catatan Nyata) - Part XXXVIII - Bagian Kedua - Cerita Seram Kaskus

Diary - Catatan seseorang yang bisa melihat Mereka (Catatan Nyata) - Part XXXVIII - Bagian Kedua

- Bagian kedua (akhir)

Terlepas dari keengganan Ayano untuk membicarakannya denganku. Tapi aku mengetahui perihal bahwa semenjak terlibat dalam duniaku. Maksudnya berhubungan dengan ‘mereka’, Ayano mulai membaca-baca dan mengumpulkan banyak sekali artikel mengenai ‘mereka’.

Aku tidak pernah membaca catatan itu, dan Ayano-pun tidak pernah membuatku membacanya. Dia sangat mengetahui kalau aku tidak terlalu suka mengetahui mengenai ‘mereka’ lebih banyak. Dan Ayano sendiri sudah mengatakan kalau sebaiknya aku tidak membaca catatan-catatan itu karena beresiko.

Ayano mengatakan, meskipun ada beberapa catatan yang sepertinya fiksi atau palsu, tapi banyak juga yang menurutnya adalah catatan asli. Dan beberapa catatan itu dalam Bahasa inggris.

Dan Ayano pernah memperlihatkan padaku sekilas salah satu catatan yang katanya berisi mantra pemanggilan yang diberikan kepadanya dari salah seorang anggota forum yang memang menyediakan informasi seperti itu. Kami tidak mengerti isi catatan itu sebenarnya, tapi anggota forum itu menunjukkan salah satu ayat pada catatan berbentuk kitab itu, dan memberikan terjemahannya pada Ayano dalam bentuk alphabet agar dapat dibaca. Namun Ayano tidak pernah membacanya karena curiga kalau itu adalah ayat yang dipergunakan untuk memanggil ‘mereka’ atau semacamnya.

Aku mengingat hal itu karena Ayano pernah menceritakan soal itu kepadaku.

Dan pada waktu itu, entah apa yang kupikirkan. Tapi aku rasa, kemarahan sudah terlalu menguasai diriku sehingga aku terpikirkan hal yang sangat bodoh itu.

Aku akan mencari catatan itu. Sepertinya aku mengetahui di mana Ayano menyimpannya di apartementnya.

Setelah menyerahkan giliran menjaga Ayano kepada Desy, gadis yang merupakan temanku dan Ayano sekaligus merupakan mantan dari Ayano (mungkin beberapa dari pembaca mengetahui siapa gadis ini), aku pulang dengan dalih ingin mandi dan berganti baju terlebih dahulu.

Tapi alih-alih pulang ke kost, aku berbelok dan pergi ke apartment tempat tinggal Ayano.

Setelah masuk, dengan segera aku berjalan ke arah ruangan yang dijadikan Ayano sebagai ruangan kerja dan perpustakaannya untuk mencari catatan itu.

Dengan mudah aku mendapatkannya di dalam buku kliping berisikan hasil scan, print dan copy dari berbagai artikel.

Tapi aku mencari kumpulan artikel yang khusus. Dan dengan mudah mendapatkannya.

Artikel berbentuk kumpulan foto dari semacam kertas kuno. Dan di tengah-tengah lembaran kumpulan foto itu, terdapat lipatan kertas yang disimpan di dalam plastik yang di staples ke lembaran dengan rapi oleh Ayano.

‘Ini dia…’ pikirku.

Aku membuka lembaran itu dengan hati-hati dan dengan rasa takut di hatiku.

Lembaran itu berisikan deretan alphabet, yang aku tidak tau apa artinya dan bagaimana cara membacanya.

Maka aku membacanya dalam lafal yang kutahu dengan membacanya tanpa putus “---------------------“ ucapku membaca deretan huruf itu.

Tidak terjadi apa-apa….

Aku memperhatikan deretan alphabet itu dengan lebih saksama. Tidak ada tanda baca atau apapun.

Apa cara membacanya dengan cara bahasa inggris? Ah tidak mungkin… deretan kata ini terlalu aneh kalau dibaca dalam bahasa inggris.

“Uhummm!!” gumamku membersihkan tenggorokan “---------------------------------“ kataku membaca deretan huruf itu sekali lagi.

‘BRAKKKK!!!”

Aku melompat kaget saking terkejutnya.

Tidak mungkin…

Pintu lemari kayu yang lumayan berat itu berayun menutup dengan kencang. Hal yang mustahil terjadi karena ini ruangan tertutup. Bahkan akan membutuhkan tiupan angin yang luar biasa kencang apabila mau membanting pintu kayu lemari itu yang cukup berat.

‘SSSYUTTT’

Aku merasakan semilir angin dingin pada tengkukku.

Aku menatap ke belakangku dengan reflex.

Tidak ada apapun…

Tidak ada sosok apapun yang tiba-tiba berdiri di belakangku atau apapun…

Sama sekali tidak ada…

Dan aku yakin sekali kalau semilir angin yang kurasakan bukan berasal dari AC, karena tempatku berdiri jauh dari AC.

Kemudian aku menyadari kertas yang masih kupegang dengan erat.

Apa mungkin?

Dan aku melakukannya.

Membacanya lagi untuk yang ketiga kalinya.

“-------------------------------“ bacaku.

Kali ini tidak terjadi apapun saat kutunggu.

Aku memperhatikan jam digital yang terletak di meja kerja Ayano.

1 menit….

2 menit….

3 menit….

Dan pada saat aku hendak membaca ulang kertas tersebut, tiba-tiba aku merasakan sensasi seakan mataku terbakar.

“AHHHH!!!!”

Rasa terbakar di mataku membuatku melemparkan diri ke lantai dan meronta-ronta.

Dan tiba-tiba semuanya menghilang.

Yang kumaksudkan dengan hilang bukanlah hilangnya sakit pada mataku.

Tapi semuanya.

Semuanya menjadi gelap…

Gelap gulita…

Aku bahkan tidak bisa merasakan tangan dan kakiku.

Aku tidak bisa merasakan apa-apa.

Bahkan aku tidak bisa merasakan apakah aku masih bernafas?

Semuanya gelap gulita dan sunyi.

Tidak ada apapun…

Aku ingin berteriak…

Tapi bahkan aku tidak bisa merasakan mulutku terbuka atau menutup…

Aku benar-benar terkurung dalam kegilaan ini…

Entah berapa lama waktu berlalu… aku ingat kalau aku sudah sempat memutar ingatan-ingatanku yang tersebar dan sepotong-sepotong pada pikiranku.

Aku mengingat momen-momen yang telah terjadi pada hidupku…

Dari ingatanku itu, yang paling jelas adalah ingatan yang baru terjadi padaku.

Dan kemudian aku mengingat tentang Ayano.

Ingatanku memutar semua memori yang bisa kuingat tentang cowok itu.

Kata-katanya…

Gerak-geriknya…

Tindakannya…

Keberadaannya….

Aku mulai putus asa…

Aku sangat yakin kalau aku sedang menangis saat ini, tapi bahkan suara tangisanku tidak dapat kudengar dan tetesan air mata yang seharusnya terasa mengalir dari mataku? Aku juga tidak bisa merasakannya.

Akhirnya ingatan yang terputar di benakku berubah…

Kali ini bukan ingatan-ingatan bahagia yang kuputar.

Tapi ingatan-ingatan yang tidak ingin kuingat lagi.

Ingatan-ingatan tentang ‘mereka’…

Ingatan-ingatan tentang siksaan-siksaan yang pernah kurasakan…

Ingatan-ingatan sedih ketika dunia menolakku karena ‘kutukan’ dari mataku ini…

Semuanya terputar dengan sangat jelas hingga menyebabkan suatu tempat dalam diriku merasakan sakit.

Aneh juga…

Padahal aku sama sekali tidak bisa merasakan badanku…

Tapi kenapa hati ini masih saja bisa merasakan sakit?

Ingatan itu terus berputar…..

Hingga tiba pada satu ingatan yang tergambarkan dengan sangat jelas.

Ingatan dimana aku mulai mendapatkan ‘kutukan’ ini.

Gambaran si ‘mahluk’ iblis merah kecil itu tergambar dengan jelas, suaranya juga dapat kuingat dengan jelas.

“Mahluk bodoh”

Aku terkejut, walaupun tidak bisa menunjukkannya karena masih tidak bisa merasakan apapun. Tapi jelas aku mendengar suara dari ‘mahluk’ iblis merah kecil yang baru saja kuputar dalam ingatanku.

“Mencariku? Heh?”

Suara itu kembali terdengar dari sebelah kiri… aku tidak tau darimana aku mengira hal itu, tapi aku seperti merasakan hal itu. Suaranya terdengar hanya dari sebelah kiri…

“Bodoh!! HAHAHAHAHAHA”

Suara itu berkata melecehkanku.

“Tidak sangka ada yang sebodoh itu mencariku untuk yang kedua kalinya”

“Sampah!!”

“HEI JAWAB!!!”

Suara itu menggelegar di dalam kepalaku. Seandainya aku masih bisa merasakan wajahku, aku yakin saat ini aku pasti sedang meringis.

“Oh aku lupa”

“Bagaimana rasanya heh?”

“Itu bayaran untuk memanggil kami!!”

“Semua ada bayarannya!! HAHAHAHAHA”

“Tapi aku akan memberikanmu pilihan”

“Kau mau mendapatkan kekuatan?”

“Aku akan memberikannya”

“Tapi seperti biasa, aku akan meminta satu nyawa sebagai penggantinya”

“Kau tidak mengerti? Dasar bodoh!!”

“Kau tidak sadar hah? Untuk mendapatkan kemampuanku, aku mengambil satu nyawa orang di dekatmu sebagai gantinya”

“Aku mengambil nyawa nenekmu yang menyayangimu sebagai ganti memberikan ‘mata’ itu padamu”

(Iya, nenek kandungku yang sangat kusayang memang meninggal sesaat setelah adikku lahir)

“Aku mengambil nyawa pria yang berharga bagimu sebagai ganti kemampuan melihat aura”

(…. Aku baru menyadari kalau ‘mahluk’ ini sedang membicarakan soal Robert)

“Sayang si ********* tidak mengambil apapun darimu ketika memberikanmu kemampuan bodoh itu”

(Sepertinya dia sedang mengatakan mengenai si ‘mahluk’ yang memberikanku kemampuan terawang. Yang membuatku kaget, nama yang disebutkan itu menurut Ayano juga salah satu dari anggota legium).

“Tapi tidak apa, aku akan memberikanmu kemampuan untuk menyakiti mahluk dari bagianku sesukamu”

“Tapi aku akan meminta bayaran, seperti biasa, HAHAHAHAHA”

“Harganya murah.. Aku hanya minta dia!”

Dan pada saat itu, gambar Ayano muncul dalam benakku.

Aku mencoba berteriak ‘TIDAKK!!’ dalam kepalaku dan merasakan marah karena tidak ada suara apapun yang bisa keluar dari diriku saat ini.

“Oh ya? Apa kamu tidak ingin membalas dendam?”

“Ayolah, bodoh, kamu sudah banyak disakiti oleh mahluk dari bagianku selama ini kan? Bukankah rasanya akan enak untuk melihat mereka menderita hanya dengan melihat mereka dengan ‘mata’mu itu?”

“Dibanding itu, bukankah nyawa dia menjadi sangat murah?”

“PIkirkan dengan baik, bukankah tawaran ini menggiurkan?”

“HENTIKAN ITU!!!”

Dia membentakku ketika aku berusaha dengan keras mengucapkan doa pada benakku.

Dan seketika, aku bisa melihat dalam benakku bayangan Ayano yang mati berlumuran darah, seluruh isi perutnya tercecer di jalanan. Matanya seakan menatap ke arahku. Pandangan mata penuh dengan terror menatapku.

Aku berteriak sekencangnya dalam benakku.

“Coba kalau berani lagi, akan kuberikan yang lebih sadis lagi!”

Aku menangis lagi… di dalam benakku…. sebab hanya itulah yang dapat kulakukan…

“Pikirkanlah!!”

Dalam benakku kembali terputar saat-saat siksaan yang pernah kualami. Kesepian akibat dijauhi oleh orang-orang yang pernah kualami.

Semua ingatan itu mengakibatkan rasa marah di hatiku.

“Bukankah mereka itu semua jahat? Ayo, mintalah kemampuan untuk membalas perlakuan mereka. Hanya satu yang perlu kau korbankan kan? Dan kau tidak akan perlu lagi menderita dalam sisa hidupmu. Malahan kau bisa menyiksa mereka sesuka hati”

Rasa marah yang memuncak pada diriku membuat rasanya menjadi sesak. Aku bahkan sempat hendak menyerah pada rasa marah itu dan menerima tawaran dari ‘iblis’ itu.

Tapi kemudian aku memikirkan harga yang harus kubayar.

Ayano.

Kembali otakku memutar momen-momen tentangnya. Tapi kali ini tentang kami berdua…

Dan kemudian aku sadar…

Awal mula aku menginginkan kemampuan untuk menyakiti ‘mereka’ bukankah karena ‘mereka’ telah menyakiti Ayano?

Sejak awal ini bukanlah tentang diriku…

Aku menginginkannya agar bisa membalas perlakuan ‘mereka’ ke Ayano….

Bukan diriku.

‘Tidak!’ kataku dengan jelas pada benakku.

“Bodoh…”

“Tapi biarlah, semakin kau akan menderita, maka pada akhirnya kamu akan menyerah juga!!”

Setelah ‘iblis’ itu berkata demikian, aku membuka mataku.

Aku bisa melihat bulu-bulu pada karpet yang berada sangat dekat pada mataku ketika aku membuka mata.

Pipiku menempel pada karpet…

Aku dalam posisi tidur tengkurap di lantai apartment Ayano entah dari kapan.

Perlahan-lahan aku menggerakkan tangan dan kakiku, kemudian badanku dan merasa bersyukur bisa merasakan tubuhku lagi.

Aku belum pernah merasakan begitu lega ketika mendengar sayup-sayup detak jantungku dan bunyi nafas yang keluar dari hidungku.

Mataku terasa gatal, dan kemudian aku menatap jendela. Aku melihat bekas air mata pada kedua sisi mataku, dan bekas air pada hidung dan mulutku.

Aku menangis… aku benar menangis ternyata…

Dan kemudian, aku kembali menangis. Aku menangis sekeras-kerasnya.

Oleh karena banyak hal….

Karena ingatan-ingatan menyakitkan yang diputar kembali dalam benakku. Pengalaman-pengalaman yang ingin kulupakan…

Karena aku baru mengetahui kalau kematian nenekku dan kematian Robert adalah kerenaku..

Karena bayangan Ayano yang mati mengenaskan yang sempat diperlihatkan ‘iblis’ itu padaku..

Dan karena diriku sendiri yang sempat ingin menerima tawaran dari ‘iblis’ itu walaupun dengan Ayano sebagai bayarannya.

Aku menangis karena begitu kotornya perasaanku…

Aku menangis untuk semua rasa sakit hati yang kupendam dengan tabah…

Dan terakhir, aku juga menangis karena bersyukur aku tidak menerima tawaran ‘iblis’ itu. Bersyukur karena aku masih memiliki seseorang seperti Ayano di sampingku…. (waktu itu sebagai teman terbaik).

Aku duduk dalam sisa-sisa isak tangisku beberapa saat sebelum akhirnya merasakan lelah dan lapar.

Aku mendongak dan melihat jam sembari membersihkan sisa-sisa air mata yang masih mengalir sedikit.

Ya ampun… sudah tiga jam semenjak aku meninggalkan rumah sakit tempat Ayano dirawat. Aku harus segera kembali.

‘Berrrrrrrrr’

Ketika aku berdiri, banyak sekali butiran-butiran debu berwarna hitam yang berbau belerang jatuh dari tubuhku. Seakan-akan keluar dari tubuhku.

Aneh…. Aku bahkan tidak mencium bau belerang sebelum ini…

Aku sempat melihat ke bekas debu hitam itu dan melihat potongan kertas kecil yang berisikan mantra itu sebagiannya sudah menjadi debu hitam seakan terbakar.

Tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya. Saat ini yang terpenting adalah segera kembali ke rumah sakit. Semoga Ayano sudah sadar.

Dan setelah itu, aku pergi ke rumah sakit. Sayangnya Ayano belum tersadar saat aku sampai dan baru sadar keesokan harinya. Tapi setibanya di sana, aku benar-benar bersyukur setidaknya Ayano masih ada, masih hidup.

Dan waktu itu aku bertekad, tidak akan membiarkannya melindungiku sampai terluka lagi.


=== Cerita Selanjutnya ===