Aku melewatkan catatan dimana nenek Elly mengajariku cara untuk mengontrol ‘mata’ku agar tidak melakukan sesuatu yang disebut ‘terawangan’ dengan otomatis. Untungnya menurut nenek Elly, kemampuan ‘terawangan’ ini adalah sesuatu yang ‘terlihat’ dan tidak ‘tersembunyi’ seperti kemampuan ‘mata’ku yang bisa melihat ‘mereka’. Karena itu nenek Elly masih bisa mengupayakan untuk menyegel kemampuan itu, meskipun katanya aku tetap harus menggunakannya sesekali agar segelnya tidak bocor.
Kenapa aku melewatkan catatan waktu itu karena aku tidak mau mengakibatkan isu sara. Meskipun tidak semua, ada beberapa dari pembaca thread ini yang senantiasa mencoba mencari-cari suatu keanehan dari kejadian yang kualami. Yah, aku mengatakan silahkan saja, dan mungkin mereka akan lebih yakin apabila mengalaminya sendiri. Tapi, tetap isu sara adalah hal yang sangat sulit untuk diselesaikan di negara ini. Daripada aku menceritakan ulang catatan pada waktu itu yang sarat dengan tata-cara ibadah dari agama kepercayaan kuno nenek Elly yang nantinya akan menimbulkan pertentangan berbau sara dan pada akhirnya membuat cerita ini tidak bisa dilanjutkan. Lebih baik aku melewatkannya saja, sama seperti Ayano yang sebisa mungkin mengedit bagian-bagian catatan dimana kami mengucapkan doa atau apapun yang menyangkut agama dari catatanku.
Mungkin ada yang keberatan, mungkin ada yang bisa mengerti alasanku. Tapi apapun itu, aku tetap bersikeras untuk tidak memasukkan apapun dan akan mengedit ulang untuk menghilangkan apapun yang berbau agama dari catatanku selama itu memungkinkan dan tidak membuat cerita menjadi aneh.
Salam,
Elisa
- Bagian pertama
(sebagian aku ambil langsung dari Diaryku – penceritaan ulang menyusul)
November 2014 (Tanggalnya aku sembunyikan karena tanggal ulang tahunku, maaf)
Beberapa kata yang bisa menggambarkan hari ini adalah :
SUCKS, SH*TTY dan SCARY…
Aku bukan orang yang terbiasa berkata kasar. Tapi kali ini sudah keterlaluan.
Karena melindungiku, lagi-lagi Ayano mengalami celaka karena ‘mereka’. Aku sangat benci hal itu.
Sayangnya ‘dia’, ‘mahluk’ sialan yang mengutuk mataku menjadi begini tidak sekalian memberikanku semacam kemampuan apa yang bisa membuatku bisa melindungi diriku sendiri, atau seharusnya yang bisa membuatku dapat menyakiti mereka secara langsung.
Belum pernah aku merasakan kemarahan kepada ‘mereka’ seperti hari ini.
Biasanya aku menganggap ‘mereka’ adalah kesialanku, ketakutanku dan kutukanku. Aku tidak pernah merasakan kesal atau marah karena gangguan dari ‘mereka’. Yang ada hanyalah rasa takut, pasrah dan lelah. Tidak pernah marah seperti saat ini.
Aku mengulang-ulang beberapa cara mengerikan di kepalaku yang akan kuperbuat untuk ‘mereka’ yang telah berbuat hal ini kepada cowok yang saat ini sedang terbaring di depanku. Seandainya aku mempunyai kemampuan untuk itu….
Tapi sialnya, semua orang pintar yang kudatangi, bahkan oma Elly juga mengatakan aku sama sekali tidak berbakat untuk belajar kemampuan seperti itu.
Aku benci ini…
Aku tidak suka melihat Ayano terluka karena ‘mereka’.
Aku juga takut… Bahkan sangat ketakutan ketika melihat Ayano yang terbaring dengan perban penuh darah di kepalanya.
Aku takut kehilangan dia..
Aku tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa menjadi tempatku berlindung dari ‘mereka’.
Aku takut…
Takut…
Dan rasa takut itu membawaku sampai pada suatu titik yang mengakibatkan semuanya berubah.
Takut itu berubah menjadi kemarahan..
Murka…
Aku belum pernah mengalami perasaan seperti ini seumur hidupku. Aku benar-benar ingin mencabik-cabik mahluk sial yang melakukan ini pada Ayano.
Aku pasti akan membalas mahluk sialan itu. Tapi bagaimana?
Sepertinya aku tidak akan bisa tidur hari ini, setelah menulis ini, aku akan mencari caranya di Internet.
===
Itu adalah catatan Diaryku. Sebelum aku melakukan suatu kesalahan yang kusesali sampai sekarang.
Tapi sebelumnya, aku akan menceritakan mengenai apa yang terjadi pada Ayano dulu.
Ini terjadi di hari yang sama dengan catatan Diaryku itu.
Yaitu di hari ulang tahunku.
Bayangkan!
Hari ulang-tahunku yang begitu spesial. Malah berakhir dengan Ayano yang harus terbaring di rumah sakit.
Ulang tahun paling menyakitkan sampai sekarang…
===
Pagi hari itu, semuanya terasa sangat indah dan aku bahkan tidak akan mengira semuanya akan menjadi buruk pada sore harinya.
Pagi-pagi, Ayano sudah datang di rumah kostku dan membuatkan makan pagi khusus ulang tahunku di untuk dimakan di kasur. Yaitu Apple Struddle hangat, Sandwidch Tuna dan kopi Tiramisu (semua favoritku!)
Lengkap dengan Black Forest Ice Cream yang sangat spesial untuk dessert.
Iya memang, dia itu sehebat ibu-ibu kalau masak.
Dengan awal pagi hari yang baik, kemudian ditambah dengan idenya untuk pergi jalan-jalan untuk memilih hadiahku sendiri setelah bimbingan skripsiku selesai.
Kemudian ditambah kejutan pada saat makan siang di restoran dimana pada saat kami makan berdua tiba-tiba teman-temanku datang dan memberikan selamat dan kado-kado untukku. Aku mengira kalau ini akan menjadi ulang tahun yang paling berkesan selama ini dalam hidupku.
Berkesan dalam arti ulang tahun terindah.
Kalau saja aku tidak melihat ‘mahluk’ itu.
Aku melihatnya tanpa sengaja. Karena mengira ‘mahluk’ itu adalah seorang nenek-nenek yang hendak menyebrang jalan, namun kesulitan karena lalu lintas yang padat.
Dengan segera aku beranjak menghampirinya dengan niat membantu “Sebentar, aku bantu nenek itu nyebrang ya ko” kataku pada Ayano.
“Lisa, hei!!” teriak Ayano memanggilku.
Seharusnya aku sadar saat itu.
Aku benar-benar bodoh….
Kalau memang ‘nenek’ itu nyata, sudah barang pasti Ayano yang menghampirinya duluan untuk membantunya menyebrang. Iya, kenyataan bahwa Ayano memanggilku dengan nada melarang adalah pertanda kalau dia tidak melihat ‘nenek’ apapun yang kumaksud itu.
Hal itu seharusnya kusadari…
Tapi dengan bodohnya aku memanggil ‘nenek’ itu dengan lantang “Nek, hati-hati nyebrangnya!” teriakku seraya berlari kecil ke arah ‘nenek’ itu yang terlihat seakan hendak melangkah ke jalanan yang ramai oleh mobil berlalu-lalang.
Tapi ‘nenek’ itu seakan tidak mendengarku dan melompat ke jalan bertepatan dengan bus yang melintas dengan kencang.
“Ahh!!” teriakku kaget.
Tapi tidak ada yang terjadi. Tidak ada bunyi benturan, tidak ada tubuh yang terpelanting, tidak ada bunyi decitan rem, tidak ada apapun.
Jalanan yang ramai tetap berlangsung seperti tidak terjadi apapun.
“Hah?”
Nenek itu menghilang…
Aku celingak-celinguk mencari sosok nenek itu sebelum merasakan sesuatu yang sangat berat, bagaikan batu besar yang ditaruh di punggungku ditambah dengan suhu dingin yang langsung menjalar ke seluruh tubuhku.
“Uhhh!!” desahku sambil terjatuh berlutut di jalan.
“… Anak baik…” bisik sebuah suara dari belakangku.
Aku hendak menengok ke belakang. Tapi leherku terasa kaku. Aku hanya bisa menggerakkan seperempat dari kemampuanku melihat ke samping kanan atau kiri. Selebihnya, seperti ada sesuatu yang menahan leherku agar tidak bisa berputar ke samping.
“A-apa?” kataku dengan gemetar.
“Kamu mau bantu nenek kan?” bisik suara itu dari punggungku.
“Ah……!!” geramku sementara punggungku terasa sakit karena menahan sesuatu yang berat.
“Nenek mau nyebrang...” kata suara itu lagi.
“….” Aku tidak menjawab, pundakku serasa mau copot.
Dan tiba-tiba aku merasakan jambakan pada rambutku.
“NENEK BILANG NENEK MAU MENYEBRANG!!” teriak suara nenek itu dari punggungku.
“I.. iya..” jawabku sambil merintih.
“Bagus, nenek maunya menyebrang ke dunia sana” katanya lagi.
“Hah?” aku merinding hebat mendengar ucapannya. Kemudian aku merasakan rambutku kembali disentakkan ke belakang dengan keras. Sepertinya beberapa helai rambutku ikut tertarik jambakan itu karena aku merasakan rasa sakit di kepalaku.
“Ahhh!!!” teriakku kesakitan.
“BANGUN!!” hardik ‘nenek’ yang menempel di punggungku.
Aku berdiri dengan susah payah dan dengan tangisan di pipiku.
Pada waktu itulah Ayano datang dan membantuku berdiri. “Elisa? Apa yang terjadi?” tanyanya.
Aku menatapnya dengan putus asa. Sebelum kembali rambutku disentakkan kebelakang dengan keras oleh ‘nenek’ itu.
“Aduh!!” kataku kesakitan sementara leherku tertarik ke belakang.
“Ada sesuatu di belakang kamu ya Elisa?” tanya Ayano. Berkat terbiasa dengan hal-hal seperti soal ‘mereka’ Ayano langsung mengetahui kalau ada ‘mereka’ yang menggangguku. Walaupun dia tidak bisa melihat ‘mereka’.
Ayano memegang bahuku dan berkata dengan tegas “Apapun yang mengganggu Elisa, pergi sekarang!! Kalau mau ganggu, kalau berani ke aku saja!! Jangan ke Elisa!!” desis Ayano tegas.
“HUH!!” teriak suara di belakangku dengan keras.
Kemudian punggungku terasa ringan dan suhu tubuhku kembali normal.
“Ko…” bisikku sambil menghambur ke pelukannya.
Iya.. kuakui akhir-akhir ini aku jadi sangat manja pada Ayano.
“Lisa? Kamu kenapa?” tanyanya khawatir.
“Sudah nggak apa ko, kayaknya udah hilang…” kataku.
Ayano memelukku sebentar sebelum berbisik “Ya udah, kamu pucet Lis, kita ke kost kamu dulu ya, istirahat dulu, biar nggak batal acara dinnernya”
Dinner yang dijanji-janjikan akan menjadi surprise itu sangat kunantikan…
Karena itu aku menurut perkataan Ayano.
Kami berdua naik ke mobil dan pulang.
Aku tidak menyangka apapun akan terjadi. Tapi tiba-tiba aku merasakan kembali rasa dingin di sekujur tubuhku.
Dan bisikan dari belakangku.
“Ayo menyebrang”
‘CIIIITTT!!’
Detik-detik selanjutnya terasa terjadi banyak hal sekaligus. Truck tronton yang melaju kencang di samping kami tiba-tiba berbelok dan memepet mobil kami.
Hal terakhir yang kuingat adalah benturan keras di sisi pintu Ayano, dan pelukan Ayano kepada diriku sebelum aku tersadar di kasur rumah sakit.
Butuh waktu sehari sebelum aku diizinkan bangun dari tempat tidur setelah dipastikan aku tidak terkena gegar otak atau sebagainya.
Tapi tidak dengan Ayano….
Dia masih tidak sadarkan diri, terbaring di rumah sakit dengan perban penuh darah membalut kepalanya.
(Bersambung di part selanjutnya - kesalahan terbesar yang kulakukan)
Maaf ya tidak terlalu panjang partnya.
=== Cerita Selanjutnya ===
