Diary - Bonus Story #4 - Elisa POV #2 - Cerita Seram Kaskus

Diary - Bonus Story #4 - Elisa POV #2

Kali ini bener-bener update yang lain daripada yang lain. Ini cerita bukan berasal dari Diary Elisa, tapi Elisa yang bikin.

Nah loh bingung kan? Gak usah bingung, Jadi ini adalah bisa dikatakan sambungan dari cerita UPDATE KHUSUS JUMAT KLIWON alias BONUS STORY IV yang diceritakan ama saya. Tapi kali ini mengambil POV Elisa.

Di cerita ini beberapa misteri yang belum terjawab di cerita pengalaman dari POV saya akan terungkap... eh, atau malahan bikin tambah misterius ya?

Okelah biar singkat langsung aja :

PS : Sorry kalau akan banyak karakter yang belum muncul di main story disebutkan disini. Soalnya apa adanya yang mau aku ceritakan - Elisa



Aku baru saja tiba di kost sepulang bekerja.

Untuk mengatasi kelelahan aku memutuskan untuk segera mandi.

Ketika di bawah pancuran shower, sekelebatan "penglihatan" melewati pikiranku.

Ayano..

"Eih.. apaan lagi tu anak kali ini..." desahku.

Sepertinya temanku itu masih belum sadar kalau saat ini bagi 'mereka' dia adalah mangsa yang sangat empuk untuk diganggu.

Dengan bau dari 'aura' ku yang masih menempel padanya karena dia berusaha mengetahui lebih jauh mengenai dunia 'mereka' dari tulisan-tulisanku pada Diary-ku,

Namun, kondisi dia sekarang tanpa dilindungi oleh 'dinding' untuk dirinya sendiri, karena itu, dia sangat rentan sekali untuk diganggu mereka.

Ampun deh... pikirku

Aku segera menyelesaikan mandiku, kemudian duduk di ranjangku. Sembari mengeringkan rambutku yang basah aku menutup mataku dan mencoba untuk memanggil kembali bayangan yang lewat tadi.

Aku membayangkan wajah si Ayano dan berusaha fokus di sana.

Aku melihatnya tak lama kemudian.

Tidak seperti yang mungkin digambarkan di film, aku tidak bisa melihat Ayano seperti melihatnya secara langsung dengan mata fisik. Aku hanya bisa merasakan 'aura'nya. 'Aura' yang sangat kukenal.

Tapi sebaliknya aku bisa melihat dengan sangat jelas 'mereka' yang berusaha mendekati temanku itu.

Sekumpulan bayangan-bayangan hitam kecil yang banyak jumlahnya, mungkin puluhan, berbaris mendekati 'aura' dari temanku itu.

Dibelakang mahluk-mahluk kecil itu, menjulang lebih tinggi daripada yang lainnya, sesosok mahluk yang besar dan berwarna hitam pekat.

Begitu hitamnya sampai aku hanya bisa melihat mata mahluk itu yang bersinar kemerahan dan seringai yang terbentuk persis di bawah wajah itu.

Dengan tiba-tiba, mata itu berbalik dan menatap lurus ke arahku.

Dia tahu!!

Karena panik aku tersadar dari usahaku 'melihat' Ayano.

"Mampus deh kali ini cowok rese itu"

Suara itu datang dari belakangku.

"DIam ah 'X', kamu tuh selalu benci banget deh sama Ayano" kataku pada sosok hantu cowok dibelakangku.

Aku berpikir sejenak. "Eh, 'X' kamu tau mereka apaan?"

"Entah deh ya" kata si hantu cowok ini malas-malasan "Demit kali? atau apaan tau, yang pasti gua bisa rasain napsu yang besar deh dari mereka, banyak sih soalnya" katanya lagi.

"Kamu bisa tolong Ayano?" tanyaku mencoba.

"OGAH!" katanya sambil langsung menghilang

"Udah kuduga" kataku sambil mendesah.

Terpaksa deh... pikirku.

"Mbak *********, mbak ada disini kan?"

Hawa ruangan langsung terasa sangat dingin. Kemudian tengkukku serasa ditusuk-tusuk oleh sesuatu yang tajam.

Aku berbalik, dan menatap wajah si 'wanita' dengan Dress putih sedang menggantung terbalik menatapku.

"Ahhhhh!!" teriakku sambil terjatuh pada bokongku.

"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI" tawa si 'wanita' ber-dress putih itu.

"Enggak perlu pakai ngagetin gitu Mbak" kataku kesal.

Si 'wanita' melayang turun dari posisi menggantung terbalik hingga berdiri di depanku. "Masa begitu aja udah kaget, belum tak kasih wujud asliku loh" katanya sambil tetap tersenyum sinis.

"Udah ah Mbak... please aku mau minta tolong sama Mbak" katanya.

"Soal si cowok bego kan?" katanya menyimpulkan.

Aku tidak menggubris ledekannya pada Ayano, entah mengapa 'mereka' yang mengikutiku semuanya selalu mengata-ngatai Ayano. Tapi setidaknya Mbak ******** si 'wanita' ber-dress putih ini meskipun sering mengerjai (menyiksa - kalau kata Ayano) temanku itu, dia masih pernah beberapa kali menolong Ayano.

Dengan bayaran tentunya.

"Kenapa kamu gak minta sama si jin itu? kan mahluk-mahluk item yang ngikutin si cowok bego itu masih lebih deket alirannya ama tu setan satu?" cerocos si 'wanita' dress putih.

Aku menggeleng.

"Enggak ah Mbak... dia gak bakal nolong aku. Lagian dia bukan di sini buat ngejagain aku kayak 'X' ama Mbak" aku merinding "Lagian dia terlalu kuat buat aku"

Si 'wanita' ber dress putih berpikir sejenak, lalu tersenyum dengan senyuman yang sangat kukenal... jahil dan sedikit jahat.

"OK deh kalo begitu" katanya "Tapi seperti biasa ya? Aku bakalan dateng di mimpi kamu" lanjutnya.

Aku mengangguk pasrah.

Ya.. itulah bayaran untuk "jasa" dari Mbak ********... dia akan datang ke dalam mimpiku dan.... maaf aku tidak bisa ceritakan di sini. Lebih baik tidak karena bisa-bisa si 'wanita' dress putih juga muncul di mimpi kalian.

si 'wanita; dress putih menghilang untuk pergi ke tempat Ayano dan me'nolong'nya.

Aku menunggu sambil mencoba fokus pada Ayano lagi..

Tidak berhasil.. seakan 'aura'nya tertutup oleh suatu kabut.

Apa boleh buat, aku harus mengusahakan cara lainnya.

Sedikit lebih berbahaya memang...

Aku merebahkan tubuhku di kasur.

Kali ini aku berusaha lebih keras untuk fokus pada Ayano...

Tapi sebelum aku sempat untuk mencapai temanku itu, sesosok hitam dengan mata merah menyala dan puluhan mata kecil sudah menungguku.

Perlahan-lahan bayangan-bayangan kecil itu tampak mengelilingi aku. Terlihat dari cahaya mata mereka yang mulai bergerak perlahan-lahan mengelilingi aku.

"Oi! Lis!!" aku merasakan seseorang menggenggam tanganku. Aku berbalik dan menemukan 'X'. Rupanya dia menyusulku ke sini.

"Kagak bagus" simpulnya setelah melihat sinar dari mata-mata kecil yang mengelilingi aku.

"Mending lu cabut balik ke tempat lu" kata 'X' sambil mendorongku mundur.

"Kamu mau tolongin Ayano?" tanyaku berharap.

Tapi 'X' menggeleng. "Ogah, tapi kagak perlu lagi juga gue ikut-ikutan. Si xxxxxxx uda sampe dan mau pancing tu gerombolan pergi, tapi kalo lu di sini malah jadi berabe, bisa ikutan ke tempat lu tidur ntar"

"Jadi.. kenapa kamu di sini?"

"Ya nolongin lu lah Lis" kata 'X' dengan muka senewen "Uda deh, lu buruan balik, gua tahan mereka di sini. Lu kalo mau bantu, bangunin aja tu cowok bego, kalo dia sadar dan ngeliat si xxxxxxxx bakalan lebih gampang harusnya mancing gerombolan gak jelas itu" cerocos 'X' sambil mendorongku kuat-kuat.

Sebelum sosoknya terlalu jauh, 'X' berteriak padaku "Inget kunjungin kuburan gua ya!! inget ya lu utang satu ini!!"

Kemudian aku merasa terhisap ke bawah dengan cepat.

Aku terlonjak di ranjangku.

Tanpa membuang waktu aku segera mengambil Smartphoneku dan segera men-dial nomor telepon Ayano.

Tidak diangkat....

Tidak diangkat lagi....

Tidak diangkat lagi.....

Aduhh, tu anak kalau tidur biasa aja udah kayak kebo sih... ini bakalan lebih parah.

Akupun segera mengetik dengan cepat pesan melalui L*ne-nya,

'Bangun Ayano!!'

'Bangun cepetan, aku butuh bantuan!!'

'Ayano!'

Tidak akan berhasil nih... pikirku. Tapi aku masih mengetik pesan terakhir lewat L*ne padanya

'BANGUN'

Kemudian aku mencoba lagi untuk meneleponnya berkali-kali tanpa hasil.

"Hai" kata sebuah suara dari belakangku.

"AHHH!!" teriakku kaget.

Di hadapanku, sosok si 'wanita' berdress putih penuh dengan luka-lukanya ketika dia mati. Seluruh wajahnya terkoyak dan membusuk, darah mengalir dari seluruh luka di tubuhnya.

"Ups.. lupa" kata 'wanita' itu.

Perlahan-lahan wujudnya berubah menjadi wanita yang rupawan dan penampilan yang rapi. "Nah, begini kan gak serem" katanya.

Aku menghembuskan nafas lega dan menenangkan jantungku yang sempat melompat tadi.

"Udah beres nih" katanya sambil menunjukkan senyumannya yang jahat.

"Udah beres? Ayano udah gapapa jadinya?" tanyaku memastikan.

DIa mengangguk "Curut semua itu levelnya, cuma buat cowok bego itu sih uda lebih kuat dari macan kali" jelasnya.

Fiuhhh... aku menghembuskan nafas lagi, kali ini seakan beban berat dan khawatir yang tadi kurasakan sudah terangkat semua.

"Thanks ya Mbak.." ucapku.

Dia tersenyum licik dan sedikit jahat. "Sekarang berarti saatnya dapet bayaran dong?" katanya.

Yahh... aku pasrah kali ini deh. Besok pagi bakal lelah nih....