Rumah Kontrakan Angker Bekasi #4 - Cerita Seram Kaskus

Rumah Kontrakan Angker Bekasi #4

cerita sebelumnya
Ok deh mah jgn diterusin dulu, kira sebelum-sebelumnya ada lagi gk"tanyaku, "pernah ada suara ketukan tapi tak ada orang, aku kira anak-anak sini minta sumbangan orang meninggal ................

Baru 2 cerita istriku aku sudah semakin yakin jika rumah itu masuk kategori angker, lalu aku kembali bertanya tentang mahluk yang bertubuh tinggi besar dan berwarna hitam, "mah sewaktu kamu melihat mahluk besar hitam tadi apa yang terjadi kemudian, kamu tidak takut atau lari teriak atau apalah gitu", " yah, aku berusaha membaca ayat kursi aku sulit untuk mengucapkannya, aku pun tak sanggup untuk teriak dan untuk menggerakan jari-jari tangan ini pun sulit, walau aku tidak melihat dalam keadaan mata terbuka lebar, tapi gambaran mahluk itu begitu jelas", lalu apa yang dilakukan mahluk itu tanyaku, " mahluk itu tidak melakukan apa-apa, dia hanya diam dan tak ada yang dilakukannya bergerak sedikitpun tidak","benar-benar tak ada yang dapat kulakukan, aku hanya pasrah saja, dan aku pejamkan lagi mataku dan berharap tidak terhadi apa-apa", "sampai dengan akhirnya kau pulang kerja, aku saat itu baru saja bangun, tapi sengaja aku tidak menceritakan kejadian tadi yang kualami, aku tak ingin mengganggu rasa lelahmu saat itu".

Mendengar cerita dari istriku aku terdiam, sampai-sampai butir ba'so yang terakhir ingin kusuap tak jadi kulahap dan kutaro kembali dimangkok. Berasa ngeri jika kuingat cerita istriku waktu saat itu, sampai aku tulis cerita ini kembali aku sedikit merinding, saat itu yang tadinya aku ingin bercerita tentang apa yang aku dapatkan dari cerita pak Badin aku tak jadi sampaikan, moodku untuk menyampaikannya sudah hilang entah kenapa, dan istriku juga sepertinya lupa akan hal itu. Akhirnya setelah selesai urusan diwarung bakso kami berdua pulang kerumah kontrakan, sesampainya di depan gerbang pandanganku kuhadapkan ke beberapa tempat yang menurut cerita pak Badin ada penunggunya.
Pertama kuperhatikan rumah rusak dan sudah hancur percis sebelah rumahku, suasana memang suram dan kelam sepertinya memang cocok bila ada penunggu mahluk halusnya, kedua aku perhatikan sebuah pohon jambu yang ada didepan dipelataran teras rumahku, pohonya tidak besar bahkan kecil untuk seukuran pohon jambu dan juga tidak begitu rimbun seperti pohon-pohon angker pada ummnya, lalu mataku tertuju kepada tower air yang berada disebelah kamar tidurku, seperti ada yang menarik pandangan ini untuk melihatnya setelah aku memperhatikan dua tempat tadi, tempatnya memang berada dipojok dan agak gelap, tak lama dari situ aku masuk ke ruang tengah langsung menuju dapur dan kamar mandi yang disebelahnya terdapat gudang material toko bangunan, di tempat inilah pak Badin mengatakan ada penunggunya yang sengaja ditempatkan disitu oleh seseorang, dan siapa orang itu aku tidak mengetahuinya.

===============================================

Lalu aku masuk kedalam kamar, didalam aku memandangi detail kamar walau kamar itu tidak berukuran terlalu besar tapi seperti seorang yang so tau dan berharap menemukan sesuatu. Aku masih sibuk mondar mandir didalam dan luar rumah mencari sesuatu yang akupun tidak tau dan berharap ada sesuatu, sementara istriku terlihat sibuk sedang menyiapkan minuman untuk kami berdua.

Ternyata bukan aku saja yang menyukai kopi

Terdengar suara istriku dari dalam, dia memberitahu jika kopi sudah disiapkan di atas karpet depan TV, dari luar aku menjawab "ya taruh saja disitu", selang beberapa detik aku masuk kedalam, kutengokan kepalaku kearah karpet dibawah, celingak celinguk ke kanan ke kiri bahkan sampai aku dekati dan duduk di karpet itu aku tidak melihat segelas kopi berada disana. " Mah kamu taruh dimana kopinya kok ngak ada si disini ", "Disitu yah dibawah, emang kamu gk ngeliat apa" jawab istriku yang sedang ganti baju dikamar, "dimana mah aku serius ini aku ngak ngeliat kopinya" jawabku. Sebenarnya saat itu juga aku sudah mulai merasa curiga dengan keadaan, aku ngak percaya kalo istriku bercanda atau lupa apakah dia lupa meletakanya dimana. " Mah kamu kesini deh liat sendiri " pintaku kepadanya, " iya, sebentar lagi nih ", tak lama istriku datang dengan sedikit menggerutu " apaan si yah bawel banget ", " hayo kamu taro dimana kopinya ", istriku kaget ekspresi wajahnya berubah dan agak berkeringat " Ayah..!!! aku tadi taru kopinya tepat disini " itulah ucapan istriku sambil menunjuk gambar burung yang tergambar dikarpet, " aku ingat betul aku letakan disini, tepat diatas gambar burung ini " jawab istriku dengan penuh tanda tanya. Kami berdua saling pandang seolah saling bertanya kemana perginya secangkir kopi tersebut, tak mau berlarut dan ambil pusing kami mencoba memalingkan atau mengacuhkan kejadian ini, lalu aku berkata kepada istriku " ya sudah mah lain kali atau mulai kali ini kalau kamu buat minuman ada makanan yang kamu tawar-tawarilah, contoh 'minum ya atau makan ya' ", setelah itu aku minta dibuatkan kopi kembali kepada istriku sambil aku berkata "yah ngak apa-apa kalo kamu suka minum aja biar aku dibuatkan lagi" seperti orang aneh yang ngomong sendiri dan istriku hanya bisa memaklumi.

Tragedi hilangnya kopi seperti sulit dipercaya dan diterima secara logika, topik ini masih kami bahas berdua sebelum kami tertidur, aku menanyakan istriku dan istriku kembali menanyaku, keadaan ini membuat kami seperti orang aneh yang berujung kepada sebuah lelucon apalagi ketika aku bicara sendiri mengenai kopi yang kalimatnya diulang kembali oleh istriku "yah kalo kamu suka minum saja ", hahahahhahaha.... kami berdua tersenyum dan tertawa kecil dan seolah-olah tawa itu mencairkan suasana mencekam barusan, disela tawa itu aku berkata "sudah mah nanti disalahkan artikan yu kita tidur saja besok kan kita masuk pagi


=== Cerita Selanjutnya ===