100 Tahun Setelah Aku Mati #71 - 100 Tahun Setelah Aku Mati - Cerita Seram Kaskus

100 Tahun Setelah Aku Mati #71 - 100 Tahun Setelah Aku Mati

pohon itu berdiri kokoh di tepian sungai, saya mengamatinya dan bertanya...
“Kembalikan bunga itu!”
Tapi pohon itu berkata “tidak”...
pohon itu berdiri kokoh di tepian sungai, saya mengamatinya dan bertanya...
“Kembalikan bunga itu!”
Tapi pohon itu berkata “tidak”...
Saya marah dengan pohon, saya yang gusar hanya duduk di lindungan naunganya.
Bunga indah itu kini tiada lagi.
Saya menengadah namun tidak ada bunga seindah yang jatuh tadi.
Kumpulan bunga di dahanya tiada menarik hati buatku.
Saya hiraukan silir angin, gemricik air yang menenangkan,serta warna pelangi dan senja jingga yang memanja.
Saya tersadar ketika satu bunga waru sengaja dijatuhkan pohon ke kepalaku, aku melihat bunga yang berbeda dari yang pertama, namun sangat indah bagiku.
Kutimang bunga itu untuk kubawa pulang saat bunga lain tiba2 terjatuh diatas aliran, dia bunga yang sama persis indahnya dengan bunga pertama, dan bunga iterakhir itu hanyut bersama air dan segala sesalku yang menguap.
-Yogyakarta, Maret 2015-
****

Sari sudah pergi, dan saya malah tidak kuasa menahan tangis, sekucur tubuh saya semuanya bergetar hebat saat sari menampakan wujudnya, saat dia menuakan wujudnya dari anak kecil menjadi seolah dia yang dewasa, yang terlihat sama persis dengan Risa, saya tidak tau kenapa bisa seperti itu, seolah sari yang melambai didepan pintu tadi adalah risa yang sedang pamit untuk pergi selamanya, saya menutup wajah dengan tangan, secepat mungkin saya lap linangan air mata itu, sambil berharap akan ada suara yang mengejutkanku dari belakang yang menegurku dengan kalimat
“jangan pake tangan, dasar cowok jorok”
Tapi sayang, suara bentakan yang saya rindukan itu tidak muncul jua, saya berharap ada yang mencubitku lagi, karena saya rindu ketika lengan dan perut saya membiru akibat cubitan itu,saya rindu tawa lucunya, saya rindu komentar2nya terhadap hal yang sepele, saya rindu bagaimana dia bisa menjadi wanita yang cerdas sekaligus konyol, bagiamana dia bisa menjadi wanitaku yang lembut namun tegas diwaktu yang sama, saya merindukan bagaimana cara dia mencintai saya dan mencintai abima, saya benar2 merindukanya.... dan mencintai semua yang ada padanya...

Saya atur nafas yang tersengal karena tangisan saya itu... saya menyadari sudah 1,5 tahun saya kehilanganya, saya sudah ikhlas tapi tetap saja rasa rindu ini masih menyiksa saya, rasa rindu ini membuat saya khilaf dan sejenak melupakan hukum ketiadaan kekekalan selain Allah,
Teringat betul bagimana jatuhnya mental saya waktu itu, saat setelah pemakaman risa, ketika saya hanya bisa meratapi semuanya, bahkan dewi dan suaminya yang bernama anwar yang dulu masih menjadi pengantin baru rela menginap berhari2 demi untuk menemaniku yang sudah seperti orang gila,sebisa mungkin mereka menguatkankku, begitu juga mertuaku yang malah lebih bisa menghadapi kenyataan, bahwa anak mereka kini sudah tiada lagi, putri semata wayang mereka yang menjadi kebanggaan keluarga sudah hilang, saya ingat semua temanku,kerabatku seperti om bowo dan keluarga, bahkan kyai datang dan memberikan penghormatan terakhir untuk risa,dan dukungan moral kepadaku..
Setiap malam setelah kejadian itu ketika saya tidur memeluk abima saya memejamkan mata dan berdoa semoga hal buruk tadi hanya mimpi buruk yang sering kualami, tapi begitu membuka mata dipagi hari...
Begitu bangun... saya sadar bahwa yang saya alami adalah nyata... kenyataan bahwa tidak ada orang lain disamping abima selain saya!. Bahkan saya sering menangis di menit pertama saya bangun,saat melihat kasur lebar ini hanya diisi saya dan abima, tanpa ada ibunya lagi disampingnya...

Saya pandangi foto keluarga yang masih sengaja kupasang didinding, dan benar2 membuat periih hati ini, pikiran saya melayang lagi kejadian itu, saat saya meletakan kepalanya di pangkuan saya, berharap masih ada nafas, detak jantung, dan denyut nadi di tubuhnya,tapi...dia sudah pergi untuk selamanya, saya menguggat Tuhan waktu itu, saya mohon untuk mengembalikan risa, kembalikan nyawanya Tuhan!!!, bawa dia kembali kedunia!! Teriakan saya akan membuat orang yang mendengarnya ikut merasakan sesak yang saya rasakan in, sangat sesak... saya merasa tidak ada guna saya jadi dokter jika nyawa istri saya sendiri bahkan tidak bisa kutolong. Saya sudah gagal teman....saya sudah gagal....

Setelah semua yang kulalui itu, setelah amarah itu menurun baru saya sadar,bahwa risa itu ibarat bunga yang ingin kumiliki, tapi ternyata saya salah... bunga waru itu bukan miliku, bunga itu adalah kepunyaan pohon, seperti juga risa yang kuanggap selama ini miliku tapi pada hakekatnya risa bukan miliku, dia adalah kepunyaan Tuhan.. Pohon itu tidak memiliki sesal saat bunganya yang paling indah gugur dan hanyut di sungai kehidupan yang fana, begitu juga Tuhan yang mengambil risa dari alur kehidupan yang serba mungkin ini untuk kembali kepada-Nya...
***
“mas.... “ suara lembut diiringi pegangan tangan dipundaku membuatku buru2 menyeka lelehan air mata ini...

“dek,kamu kok belum tidur?” kata saya yang kaget ternyata tangis saya ini membuatnya bangun

“aku temenin ya” katanya dengan lembut sambil mengusap pipiku yang masih basah..

Wanita manis ini duduk disampingku dan menggenggam tanganku erat sekali, matanya menyorot kearah mana saya melihat. Ke dinding,lebih tepatnya kearah foto itu..

“mas, lagi kangen sama mbak Risa?” tanya dia lagi sambil menyibak rambutnya yang hitam pekat yang biasanya terlindung jilbab..

“iya dek, maafin mas ya ...” kata saya yang merasa bersalah, karena kenyataanya dia adalah istri ke2 saya, dan saya tau persis wanita adalah mahluk yang tidak mau berbagi cinta, meskipun kepada orang yang sudah meninggal...

Dia tersenyum dengan teduhnya sambil menggeleng..

“sebuah luka yang dalam perlu waktu lama untuk sembuh, belum lama mbak risa meninggal, dan aku paham mas, mungkin butuh waktu seumur hidup buat sembuh dari ini” jawabnya lembut dengan mengelus pipiku lagi.

“enggak dek, aku akan cepat semuh, selama kamu terus bersama aku dan abima”

**

Saya sudah jalani rutinitasku, saya kejar mimpi saya lagi yang sempat terbengkalai, saya buka dua buku terpenting di hidup saya, dan saya baca lagi dengan berulang buku catatan Husain, untuk mengingatkan saya tentang tujuan dari impian saya, saya buka buku satunya, buku diary dari risa untuk mengingatkanku bahwa risa, kecerianya, dan semua mimpinya akan tetap abadi dalam tulisan ini.

“suatu saat nanti akan tiba saatnya, dimana tidak ada lagi yang kelaparan, tidak ada lagi orang sakit yang terbengkalai, tidak ada orang jompo terlantar, tidak ada lagi anak yatim yang mengemis dijalan,tidak ada orang bodoh dan tidak ada lagi pencuri yang duduk di kursi pemimpin”

Salah satu kutipan catatan Husain ini seperti menjadi tujuan saya untuk mengejar mimpi saya lagi dan lagi...

“semuanya begitu indah, dan mas kamu tau?, aku pengen seluruh dunia tau tentang cinta kita,soalnya kalo mungkin kita tidak bisa bersama selamanya, kisah kita yang akan abadi dalam sebuah kenangan yang bisa direkam”

Ini adalah salah satu kalimat permintaan dari risa, yang menginginkan pengabadian dalam wujud yang bisa dibaca, direkam dan dirasakan oleh orang lain.

Saya menutup kedua buku itu, dan menaruhnya ditempat khusus, saya berdoa kepada Tuhan, untuk anugerah besar yang saya terima, kedatangan risa merupakan anugrah saat Tuhan mengirimkan satu orang yang saya cintai dan menjadi istriku, kepergian risa walaupun pedih juga merupakan anugrah dimana disitu saya sadar bahwa memang risa sekarang sudah dipetik dan ditempatkan disebuah tatanan pualam terindah di alam sana...

Saya keluar dari ruang baca yang saya gunakan sekaligus ruang kerja, dan melihat abima, dia semakin pintar saja, dan semakin lucu, kalian akan gemas melihatnya, dia selalu mengingatkan saya kepada ibunya. Abima begitu melihatku dia berdiri, dan dengan langkah kaki anak2 dia berjalan pelan dan memeluk kakiku dengan manja, saya gendong anak ini dan menciumnya berkali2,
“dek sini dek” kata saya kepada istri, dan seperti tipikal istri saya yang kalem dia menurut tanpa banyak bicara dan menghampiri saya dan abima, kudekatkan bibir saya dan saya kecup keningya, yang dia balas dengan pipi memerah, dia cantik, sangat cantik, wanita yang menjadi istri saya ini memiliki jalan hidup yang juga berliku, walaupun dia tidak berindra sama sepertiku.

“dek, aku mau pergi ke semarang, dan mungkin gak pulang, masalah kemarin yang aku ceritain kekamu. Kamu gapapa sendirian sendiri sama abima di rumah? Tanya saya kepadanya.

“aku gapapa mas, mas selesein aja apa yang udah jadi tanggungan mas, dan hati2 mas.. aku berdoa dari sini” ucapnya sambil memandang saya dalam2.

Saya tersenyum dan mengecup keningnya untuk kedua kalinya, saya memberikan abima dari gendongan saya untuk dia gendong,dan langsung mengambil tas dan kunci mobil, untuk berangkat ke semarang pagi itu..
Saya memanasi mobil di depan garasi, saya lambaikan tangan kepada abima yang mulai merengek karena ingin ikut dengan bapaknya, dia memang anak yang sangat lengket denganku.

Saya memasukan perseneleng satu, dan melaju di jalanan kota jogja pagi itu, menuju tempat penepatan janji, kepada sahabatku Sari, yang sudah menunggu selama 100 tahun untuk hari ini, saya tidak tau kenapa dia menghabiskan waktu selama itu, tapi hari ini saya akan segera tau..

Butuh waktu beberapa jam untuk sampai alamatku yang dulu, ditambah lalulintas jogja yang macet membuat saya harus lebih bersabar menunggu...
Rumah itu sudah ditempati lagi,juga oleh keluarga tentara, entah sejak kapan. informasi itu saya dapatkan dari om bowo yang membantu mencari tau lewat koneksinya sebagai purnawirawan perwira TNI, dan sudah diberikan izin juga untuk saya berkunjung ke rumah itu lagi...

Jalanan di jawa tengah yang dikelilingi sawah yang sangat luas menemani perjalananku, saya matikan ac mobil dan angin segar meniup wajahku dari luar, tidak terasa saya sudah belasan tahun, sejak saya sering bolak-balik jogja semarang bersama bapak, terkenang masa itu, masa saya bersaamanya bersama risa, bersama sari dan semua yang sudah pergi dan akan pergi meninggalkanku. Saya masing mengingatnya, semua yang sedih dikenang, semua yang sayang dibuang...

Setelah sekian jam perjalanan, saya sudah sampai didepan rumah itu, rumah yang menjadi awal dan akhir dari cerita ini, saya ketuk pintu yang mulai termakan usia. Dan seorang laki2 muda membuka pintu itu, gagah dengan tubuh yang lebih kecil dariku namun kekar berisi, baret hijau masih dia kenakan dengan lambang kesatuan kostrad,epolet di bahunya menunjukan pangkatnya sebagai seorang sersan mayor.
Saya bersalaman denganya, seorang tentara yang tidak jauh beda umurnya denganku bernama Satrio. Saya diterima dengan baik disini, dikenalkan dengan keluarganya, seorang istri dan seorang anak seumuran Abima.. ahhhh hal itu membuatku bernostalgia...
Kami berbincang, dan yang membuat saya terheran adalah Sersan Satrio mengenal almarhum bapak, katanya nama Letnan Hartono sudah menjadi legenda disini, dedikasi dan pengabdian, serta prilakunya masih menjadi contoh, bahkan setelah 11 tahun beliau meninggal.
“coba saja, mas tanya, siapa yang gak kenal Letnan Hartono disini, Fotonya tercetak besar dan tertempel didinding, sebagai kusuma bangsa yang sudah gugur” begitu kata tentara yang ramah ini.
Setelah obrolan basa basi berakhir, saya memohon izin untuk ke halaman belakang, saya tidak mengatakan maksudku, karena mungkin akan sulit dipercaya satria, dan saya dipersilahkan ke halaman belakang.

Saya menapaki rerumputan yang kukenal itu, saya memandang berkeliling di pekarangan yang dikelilingi dinding setingi satu setengah meter.. tapi..
Dimana dia?, dimana sari?, dia tidak ada.. harum melatinya tidak tercium disini, getaran energinya juga tidak terasa.. lantas dimana sari??..
Saya panggil dia dengan teriakan bahasa batin “Sariii!!!!” tapi tetap sosok anak kecilyang berumur 106 tahun itu tidak muncul, dia tidak ada.. dimana dia???
Belum habis misteri itu tentang 100 tahun dia menunggu,kini dia malah menghilang tanpa sebab dan petunjuk....
Lalu Sebuah tepukan mengaggetkanku, dimana itu adalah satrio..

“sebenarnya apa maksud mas rizal? kesini, saya sudah mendengar cerita tentang rumah ini, tentang sebuah keluarga yang pernah tinggal disini yang tidak tenang karena anaknya diganggu penunggu rumah ini, mas rizal.. tolong jelaskan, apa anak itu adalah mas rizal?”

Saya kaget dengan perkataan satrio yang menebak dengan betul, dan disitu saya sudah kehabisan alasan dan mengatakan kenapa saya disini.. akhirnya saya jelaskan pada satrio rangkaian kejadian masa lalu, dan alasan utama saya bisa sampai disini.. sersan satrio mendengarkan ceritaku dengan seksama sambil sesekali bertanya, dan kujawab dengan apa adanya, dan setelah semua alasanku selesai saya beritahu,dia berkacakpinggang dan memandang kebawah, seperti berfikir..
“mas rizal bolehkah saya membantu?, saya mungkin tidak seperti mas rizal tapi saya menangkap ada petunjuk. Karena saya dan keluarga tinggal disini, dan saya tidak mau keluarga saya tinggal seatap dengan jin yang tidak tenang” kata satrio

“ya, menurut mas bagaimana tentang ini?, ini adalah tahun ke 100nya, tapi.. saya tidak bisa merasakan kehadiranya, saya hanya bisa merasakan sosok lain yang memang sudah lama ikut menghuni disini” kata saya yang balik bertanya..

“menurut cerita mas rizal tadi teman mas itu mengatakan kalau meminta mas rizal datang tepat 3 purnama setelah pertemuan terakhirnya dengan mas rizal?” tanya satrio yang menyelidik...

“iya.. dan itu tepat hari ini” jawab saya dengan yakin..

“ada satu hal yang terlewat olehmu mas” jawab satrio yang menengadah kelangit..

“hari ini masih sore ...”

**
Saya baru sadar setelah perkataan satrio tadi yang menjelaskan bahwa terlalu dini bagi saya, saya terlalu cepat sampai.. satrio menawarkan saya untuk menunggu didalam rumah, menunggu sampai mentari yang masih berpijar berganti menjadi rembulan dengan purnama penuh...
Saya ,dijamu dengan baik oleh satria, sersan muda ini tidak menyangkal setiap jawaban dari pertanyaan yang dia tanyakan, menunjukan bahwa dia adalah orang yang rendah hati dan siap mengosongkan gelas, untuk sebuah hal tabu yang dia terima...
Waktu terus berjalan, dan matahari sudah condong ke barat, rembulan penuh sudah mulai tampak dengan samar dari arah lain, menunjukan bahwa ini sudah dekat dengan saatnya... saya sudah menunggu beberapa tahun untuk malam ini, dan sari sudah menunggunya tepat 100 tahun, Saya memberikan masukan agar satrio mengungsi bersama keluarga, karena saya tidak tau apa yang akan terjadi malam ini, dan hal gaib bukanlah sesuatu yang dapat dilawan dengan sangkur atau senapan SS2 miliknya, satrio setuju. Tapi hanya anak istrinya yang dia minta untuk malam ini tidak tidur dirumah, dia memilih ikut dengan saya, sekedar menemani saya, dan mendapat pengalaman baru yang tidak bisa dia lihat dan dia rasakan. Saya tersenyum dan dalam hati berkata kalau nama satrio pantas dia sandang...

Kamimenunggu didalam rumah, ditemani kopi dan makanan yang disediakan istri satrio, saya menganggapnya sebagai seorang yang amanah untuk menjaga rahasia,maka ketika dia bertanya maka saya jawab dengan apa adanya kecuali bagian ketika saya sudah pernah kehilangan istri dan sudah beristri lagi, saya hanya mengatakan bahwa saya sudah berkeluarga.
Yang tanpa dibantah dan dijawab dengan kalimat tasbih oleh satrio, dia menghormati saya tanpa banyak bertanya karena dia tau pertanyaan yang berkaitan dengan masa lalu saya adalah berarti saya mengorek luka yang sudah kering.
**
Saya menunggu cukup lama, sudah lewat jam 21.00 tapi tidak ada tanda kemunculan apapun, disitu saya mulai khawatir kenapa dan ada apa ini... saya pasang indra saya untuk saya maksimalkan kebatas kepekaan maksimal yang saya bisa, tapi tetap saja.. energi yang saya rasakan hanya berasal dari penghuni lain sekitar..
Asbak didepan satrio sampai penuh dengan abu dan puntung rokok yang dia sulut terus menerus.

“mas rizal tidak perlu khawatir, malam ini mungkin akan jadi penantian yang pantas untuk mas rizal, saya merasa ada maksud baik dari 100 tahun ini, dan mungkin hal itu tidak bisa dijelaskan selain dari penafsiran orang yang mengerti dari hidup mas rizal” kata satrio yang sepertinya tau kenapa saya gelisah..

Saya mengangguk, dan mengerti maksud kalimat bijak yang dia katakan barusan, saya ikut duduk dan tetap berusaha merasakan dimana posisi sari. Sambil berbincang dengan satrio...

**
“Tutur bener puniku,
Sayektine apantes tiniru
Nadyan metu saking wong sudra papeki
Lamun becik nggone muruk
Iku pantes sira anggo”

Waktu itu jam sepuluh malam, saat saya masih sabar menanti sari, dan terdengar tembang yang familiar, tembang macapat yang mungkin hampir mirip seperti ini, tembang itu ditulis dalam bahasa jawa yang tidak saya mengerti, dan mungkin berarti seperti ini

“Ucapan benar itu
Sejatinya pantas diikuti
Meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya
Jika baik dalam mengajarkan
Itu pantas kamu pakai”

Suara tembang jawa dengan suara tinggi itu terdengar jelas ditelingaku, diiringi suara gending dan harum melati yang sangat pekat tercium menyengat hidungku. Saya sontak berdiri dan memandang keluar jendela, saya lirik satrio yang dia hanya mengikuti gerakanku tanpa bertanya.
Akhirnya saya merasakanya... energi itu, saya hafal ini adalah milik sari, saya keluar rumah dan masuk ke halaman, saya jelas merasakan energinya, tapi sari belum menampakan diri... tungguu..
Ada apa ini????

Saya merasakan ada mahluk lain selain sari... yaaa.. sari tidak hanya sendiri, saya rasakan,satu dua tiga, empat.... ada empat!, dengan energi yang lebih besar dari sari. Saya melirik kebelakang dan melihat satrio yang muncul di depan pintu, saya berikan isyarat untuk dia jangan mendekat dan tetap berada di rumah, satrio yang paham lalu mundur dan mengamati saya dari balik jendela...

Saya memutar badan dan mencari sosok itu, dimana dia tidak ada, saya takut jika 4 mahluk lain itu adalah jin yang pernah saya lawan... apakah ini jebakan? Terbesit rasa tidak percaya saya...
Dan akhirnya saya melihat, sesosok jin perempuan tua dengan baju kumal dan berdarah di kakinya, dia tersenyum dan memandangku dengan tajam.... kemudian muncul lagi...sosok hantu laki2 muda dengan penampilan luka menganga didadanya yang seperti habis ditebas pedang..... sosok lain tidak lama kemudian muncul dengan wujud yang hampir sama dengan wajah yang sangat buruk...
Dan setelah itu, ada satu lagi, sosok yang lebih tua... berwujud bapak2 dengan leher yang seperti disayat dan hampir terpotong.. tiga dari mereka membawa benda yang ketika mereka hunus ternyata itu adalah golok!!!, saya bersiap dengan kemungkinan buruk dan saya pagari diri saya sendiri...
Jantung saya berdebar saat mereka semua melayang dengan cepat menuju kearah saya!
Sial ini jebakan!!pikir saya yang siap melawan..
...
...
..
..
..
..
Tapi.... ternyata saya salah. Mereka semua melesat melewatiku tanpa menghiraukan saya, saya heran dan melihat kemana mereka, mereka semua berdiri dan berjejer dibelakang saya, di sebelah sisa potongan pohon yang saya kenal...
Pohon itu adalah pohon yang ditebang semasa saya kecil dulu... dan masih terlihat dari sisa potonganya yang masih menancap di tanah.
Saya mundur selangkah saat wujud keempat jin yang tadinya menyeramkan itu kini sudah berubah, saya melihat mereka kini tampak selayaknya manusia yang seolah masih hidup, jin perempuan tua itu tersenyum dengan ramah kepadaku, kedua jin pemuda itu mereka melambaikan tanganya kepadaku, dan jin berwujud bapak2itu, dia memberikan gerakan hormat kepadaku...mereka tidak berkata apa2 mereka yang berbaris dalam satu saft tiba2 jatuh terpelanting kebelakang dan seolah lenyap.....

Ada apa ini? Saya bingung... saya bingung dengan maksud kejadian ini, dan saat semuanya masih tanda tanya diotaku,sosok yang saya cari muncul..
Anak kecil berumur 6tahun itu, sari yang datang dengan melati di tanganya...

“kamu menepati janjimu rizal” ucapnya riang..

“sari,.. apa maksud semua ini” tanya saya dengan suara terbata...

“kamu harusnya paham rizal, mereka adalah keluargaku... yang semuanya bernasib sama denganku, dan malam hari ini kamu datang bukan hanya untuku, tapi untuk mereka semua, mungkin kamu belum pernah melihat mereka, karena mereka memang tinggal disini, dan tidak menampakan diri kepadamu, akhirnya mereka memintaku untuk mewakilinya. rasa dendam kami yang membuat kami tidak tenang, rasa tidak senang kami terhadap manusia membuat kami tidak mau kembali ke alam kami, tidak seperti ruh dari mereka yang sebenarnya yang mungkin sedang menikmati nikmat kubur karena mereka mati secara syahid.tapi semua berubah saat aku mengenal rizal kecil, seorang anak polos, seorang anak kuat yang akan menghadapi hal yang sulit dibayangkan sesamanya, seorang anak yang ikhlas menghadi cacian dan hujatan tidak adil dari sesamanya, sebenarnya kami sudah tenang.. begitu kami mengenalmu, bahwa masih ada manusia yang luar biasa sepertimu,yang menurut kami kamu akan membawa sebuah perubahan untuk sesamamu, entah bagaimana caranya kamu sudah menghilangkan dendam kami, dan kami mulai sedikit percaya kepada manusia, tapi entah kenapa kami menjadi tidak tenang lagi... kami takut kamu akan menyerah, dari takdir yang menghantamu, dari usilnya bangsa kami dan bangsamu sendiri, dari kenyataan nafsu dan amarah yang kamu miliki, kami semua takut,manusia yang membuat kami percaya kalah oleh kejamnya alam fana, maka aku dan keluargaku menunda.. menunda untuk kembali, sampai melihatmu cukup dewasa dan sudah menghadapi ujian terbesarmu,dan kata bapaku... mungkin kamu akan mencapai kedewasaan lahir batin di 100 tahun setelah aku mati, dan ternyata benar.. kamu bisa melalui semuanya, tanpa menyekutukan Tuhanmu.. kini kami tenang saat melihatmu benar2 bisa dipercaya oleh kami, tinggal sekarang bagaimana kamu membuat golonganmu sendiri percaya bahwa kamu dapat merubah semuanya, tatanan yang salah, yang selama ini banyak dilakukan manusia, Rizal, 100 Tahun setelah Aku mati tidak berarti apapun, karena kami sudah tenang saat kami mengenalmu semasa kecilmu dulu, 100 Tahun Setelah Aku Mati dibuat untukmu, untuk melihatmu menjalani sebuah jalan yang tidak tentu bisa dilalui semua orang, perkataanku tentang 100 Tahun Setelah Aku Mati dibuat untukmu yang menjalani takdir yang sulit.. dan terimakasih rizal sudah datang, dan karena kamu sudah datang dan siap membantuku, kamu harus menepatinya dengan hal sederhana”
Kalimat sari membuat saya tidak bisa berkata apapun, 100 tahun setelah dia mati yang selama ini saya tunggu ternyata bukan untuknya? Tapi untuku? Untuku yang sudah melewati ujian2 gila tanpa menjadi gila, sari yang bukan dari bangsaku begitu memperhatikanku, dan menunggu selama itu?, saya tidak tau mesti bilang apa setelah misteri terbesar dalam hidup saya yang selama ini saya cari tau ternyata sudah saya jalani tanpa terasa...

Dan ketika saya masih tidak percaya dengan perkataan sari, sari sekali lagi menampakan wujud dewasanya.. Sari Risa.. ya seperti itulah pemandangan yang bisa membuatku seperti dekat dengan belahan hatiku, sekalugus terasa menggorok hatiku dan membuatnya menjadi perih lagi, sari yang didepanku tapi saya bayangkan adalah risa yang didepanku karena miripnya mereka..

“dan untuk hal ini, untuk kemiripanku dengan risa, aku sendiri tidak tau, mungkin ini salah satu takdir itu sendiri, jawabnya sambil menyerahkan sekuntumm melati kepadaku” saya terima melati dari sari berwujud risa itu.. dan saya menangis... ternyata saya akan kehilangan 2 bunga indah yang sama persis yang hanyut di sungai fana dunia...

“selamat tinggal rizal, terimakasih.. seluruh dunia akan berterimakasih kepadamu. Dan jika tidak keberatan, meskipun kami sudah tenang kamu bisa menggali tempat ini dan memakamkan kami dengan layak”

Sari menjatuhkan dirinya kebelakang dan hilang secara misterius, persis seperti 4 mahluk tadi..

Saya tertegun ditempat berdiri, bahkan saya tidak sempat berucap apaun saat sari pergi...
Tanpa sadar saya sudah kehilangan bunga terakhir itu .....

Saya tampar pipi saya sendiri dan segera berteriak ke arah mas satrio, untuk meminta cangkul, atau benda apapun yang bisa digunakan untuk menggali...

Malam itu. Saya dan satrio menggali tanah di sekitar potongan pohon yangsudah ditebang lebih dari 20 tahun itu, akar dari pohon yang sudah tua ini jauh tertancap di tanah dan mempersulit kami menggali, satrio terus menggali tanpa bertanya, sama sepertiku yang tanpa bicara dan dengan sekuat tenaga mempercepat kerjaku, setelah cukup dalam menggali akhirnya...
Kami menemukan mereka, tulang2 yang sudah terkubur tepat 100 tahun lalu, kini mereka kutemukan, saya dapat lihat sisa kain kafan yang belum hancur di diskomposisi tanah, ada 5 dan benar saya melihat sisa jasad yang terkecil, saya dekati serpihan tulang yang sudah tidak saling menempel itu dan tidak terasa seters air mata saya jatuh,ini adalah sari...
Sari... yang sudah percaya kepadaku dan sudah menunggu 100 tahun untuk hari ini

****
Hari pemakaman ini harusnya sudah terjadi 100 tahun lalu, saya meletakan pusara itu diatas tanah yang menjadi persemayaman terakhir sari beserta keluarganya, nisan tanpa nama ini hanya digunakan sebagai petunjuk bahwa ada jasad didalamnya pernah hidup keluarga pahlawan yang tidak tertulis di buku sejarah manapun..
Saya menaburkan bunga dibantu abimanyu yang ikut2an dengan kegiatan bapaknya,saya pandang anak yang kelak akan jadi jagoan ini sambil tersenyum..
Suatu saat dia akan tau, yang dimakamkan disini adalah jasad dari tubuh manusia yang qharinya menjadi sahabat bapaknya.
Saya menggenggam batu nisan di sebelahnya, yang masih wangi dengan harum bunga yang baru saja saya taburkan.
Disini terkubur dengan damai, keluarga dari sari..

Dan nisan disampingnya memiliki nama yang terukur disini dan abadi juga dihatiku.
Disini beristirahat dengan damai

Almarhumah Risa Ayuningtyas Binti Hamzah Syarif Atmojo.

Wanita luar biasa cantik, cerdas, dan baik yang harus meninggalkan suaminya.
Seorang yang menolong saya, yang menjadi impian dari trilogi hidup saya, yang memberikan saya cahaya saat gelap hati membelenggu,walaupun kini sudah tida, cintanya tetap bisa saya rasakan dalam keabadian.
Makam ini adalah makam dari Mantan istri saya dan masih menjadi Ibu dari Abima, karena kalian tau?, ada yang namanya mantan pacar, mantan istri dan mantan suami, tapi tidak akan ada yang namanya mantan ibu dan mantan bapak. Saya memiliki istri lagi dan dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Risa sebagai ibunya, Istri saya ini akan menjadi sahabat bagi abima, dia akan jadi wanita yang membesarkan abima menjadi laki2 yang lebih gagah berani dari bapaknya ini, dia yang akan menemani saya, sampai saya besok juga dimakamkan disini oleh abima dan bergabung bersama sari dan risa.

Saya menikah lagi, terkesan terlalu cepat ya?, tapi bukan berarti saya tidak mencintai Risa, saya melakukan ini karena besarnya cinta saya kepadanya.
Saya genggam tangan istri saya yang penuh pengertian ini dan mengajaknya pulang kekehidupan kami dengan sejuta tantanganya. Tantangan 100 tahun setelahaku mati dari sari sudah saya lewati, dan ternyata tidak mempunya arti begitu besar bagi sari, melainkan artinya sangat mendalam buatku. Sari sudah percaya kepadaku, tinggal sekarang bagaimana membuat orang lain percaya padaku, tanpa memaksa mereka...
jangan anggap ini adalah cerita yang berakhir sad ending, justru sebaliknya. Cerita ini adalah cerita Happy ending. Bagi kalian yang mau mengambil hikmahnya.

Baik saya dan istri sedang berbahagia, bahagia setelah semua beban ini dapat saya lepaskan dan tuntaskan, jangan kalian bandingan istri saya ini dengan risa, tapi jika kalian tanya siapa yang lebih saya cintai, maka akan saya jawab.. Dia..yang istri saya sekarang yang menemani saya insyallah sampai akhir hayat saya nanti.
Oh iya, kalian belum berkenalan dengan istriku,nama istri saya ini adalah ....................




100 Tahun Setelah Aku Mati.
TAMAT

4 comments

Trus risa mati karena apa?