Saya terbangun karena suara alarm dari Handphone.
"Uhh.." keluh saya sembari membiasakan mata pada sinar matahari yang masuk.
Setelah berhasil mengumpulkan nyawa dan duduk di tempat tidur. Saya memperhatikan sekeliling...
Gordin berkibar-kibar terkena terpaan angin yang masuk dari jendela yang terbuka "Bagaimana jendela itu bisa terbuka?" pikir saya dengan kondisi yang masih linglung akibat baru bangun.
Samar-samar, hidung saya mencium bau wangi yang manis.
Saya berbalik ke arah wangi itu yang ternyata berasal dari teman saya, Danu
Seketika itu, kejadian semalam kemarin kembali pada benak saya.
"Oi!! Dan!!" saya melompat dari tempat tidur saya dan mencoba membangunkan teman saya.
Teman saya masih tertidur, tapi wajahnya sangat pucat sekali.
"Oi, cumi!! bangun!!" teriak saya membangunkan dia dengan panik.
"MMhhh!!" geram Danu sambil meluruskan tangan dan kakinya "Apaan sih berisik" keluhnya.
"Lu enggak kenapa-kenapa?"
Danu menatap saya dengan bingung "Hah? maksudnya?"
"Kemarin malam ? lu emang gak sadar?"
Danu terlihat mengingat-ingat sesuatu, lalu tersipu malu sambil menggaruk-garuk kepalanya "Oiya, seru banget mimpi gue semalem.. hehehe"
"Hah? mimpi? bukanya lu kesurupan?"
"Enggak bro, mimpi gue didatengin cewek asli cakep banget, jadi ceritanya gini *ceritanya Danu saya Sensor - karena terlalu BB++*
Jadi intinya si Danu mimpi ketemu cewek cakep, terus diajak kimpoi. Yang soal si Danu teriak-teriak minta ampun? itu katanya si Danu karena cewek yang cakep tadi panggil lagi temen-temennya yang gak kalah cakepnya. Ceritanya si Danu dipaksa kimpoi sampe enggak kuat lagi. Gitu deh ceritanya kurang lebih.
"Gitu deh bro" katanya sambil masih tersipu-sipu "Enggak nyesel deh"
Saya speechless... enggak nyesel? enggak nyesel?? gila nih anak...
"Bro? lu kagak sadar? udah jelas yang lu mimpiin bukan mimpi basah cuy, itu mah mimpi yang mistis-mistis gitu"
Danu melihat saya, kemudian dia menarik celananya dan melihat ke dalamnya. Iya saya tidak salah tulis, itu beneran dia lakuin "Huff, enggak basah cuy, untung aja enggak keluar gue, gimana jelasinnya ke orang hotel" cerocos Danu.
Ohmaygawd ni anak...
"Mending gue mandi ah, lu belom mandi juga ye?" tanyanya sembari melompat dari tempat tidur sembari menggeser saya.
"Belom, lu duluan deh... gue masih cape" kata saya.
"Cape kenapa?" wajah Danu berubah dari bertanya-tanya menjadi senyuman jahil "Ohhh!! gue tau, lu juga ngalamin mimpi kayak gue ya? makanya lu cape"
"Kagak" jawab saya "Gue cape karena lu, ude sana mandi"
Danu terlihat bingung tapi memutuskan untuk tidak mengacuhkan saya. Dia hanya mengangkat bahunya kemudian mulai melepaskan kaos yang dipakainya.
"Oi, cumi! Badan lu liat!"
Danu mengikuti perkataan saya dan melihat ke badannya. Sekujur badannya dipenuhi dengan tanda biru keunguan yang kecil-kecil.
"Wew... kok bisa bekas cupangnya bertanda beneran?" Kata Danu.
"Hah? Cupang? pala lu cupang itu cumi, lu liat yang bener" kataku sambil menunjuk ke salah satu tanda keunguan itu "Itu bentuknya kayak kelopak bunga gitu"
"Iya juga sih ya..." gumam Danu "Coba liat punggung gua ada gituan juga gak?"
"Buset!!" teriak saya ketika melihat punggung Danu.
Di punggungnya, melintang dari bahu sampai ke pinggang, adalah bekas garis-garis panjang berwarna keunguan yang banyak jumlahnya dan saling bersilangan satu sama lainnya.
"Cuy, punggung lu penuh bekas cakaran begitu. Kagak terasa sakit apa?"
"Hah? cakaran?" Danu memunggungi cermin agar dia bisa melihat punggungnya "Wow, wah gila juga si ******* sampe bekas begitu"
Wtf?
"Apa kata lu bro? lu tau nama 'mahluk' itu?" tanya saya.
"Hush, maen mahluk-mahluk aja, gak sopan lu ama cewek cakep" kata Danu tidak setuju "Tau lah namanya, *Sensor semua untuk nama-nama 'mereka', dari yang Danu sebutkan paling enggak ada 7 'cewek' yang dateng ke mimpi dia*
"Bro, jangan macem-macem dah... gua paling males kalo sampe urusan sama yang begituan" kata saya.
"Udehh, tenang aja, kayaknya mereka baik kok"
Sebelum saya sempat protes, Danu menutup protes saya dengan kata-kata "Udah, tu urusan gua dah. Ntar gua bilang supaya lu gak usah diikutin, rugi-rugi lu dah" katanya.
Hati saya masih tidak tenang sepanjang perjalanan ke desa tempat project saya harus dilakukan. Project itu tepatnya milik kontraktor perusahaan tambang minyak yang meminta sesuatu yang erat kaitannya dengan pekerjaan saya. (maaf saya rahasiakan)
Di tengah-tengah perjalanan, Danu kembali berbuat ulah. .
"Bro-bro, stop sebentar" teriak Danu tiba-tiba di tengah perjalanan.
Tanpa menjelaskan apa-apa dia langsung melompat turun, keluar dari mobil "Ayano! sini buruan!" teriaknya sembari turun.
Dengan bingung, malas dan ragu saya mengikuti Danu turun.
"Liat tuh bro!" ujar Danu sambil menunjuk ke arah bukaan diantara pepohonan yang mengelilingi kami.
"Apaan sih" kata saya enggan.
"Cewek mandi bro!! lu gak liat?" ujarnya lagi dengan bersemangat.
Oke... secara logika, mana mungkin ada cewek-cewek mandi di tengah hutan begini? sudah jelas itu adalah penampakan dari 'mereka'.
Dan sialnya saya juga bisa melihatnya.
Saya tidak akan menjadi orang yang munafik, karena itu saya katakan jujur, 'mereka' yang terlihat sedang mandi itu memang sangat bening dan cantik.
Saya hampir tidak bisa mengalihkan pandangan dari 'mereka' kalau saja orang yang menjadi penunjuk jalan kami tidak memanggil saya.
"Pak, ada apa ya berhenti di sini?" tanya orang itu "Apa ada harimau pak?"
Saya kaget mendengar pertanyaannya "Hah? harimau?"
"Iya? saya pikir bapak-bapak lihat harimau soalnya nunjuk-nunjuk ke hutan sih" katanya.
"Oh, memang bapak gak lihat?" tanya saya.
"Wah, kalau bapak masih muda mungkin bapak lihat, sekarang kan bapak sudah tua, mana mungkin bisa melihat ke hutan gelap begitu"
Gelap? wait... yang saya lihat tadi tidak ada gelap-gelapnya, justru sungai tempat 'mereka' mandi seharusnya tepat berada di samping hutan.
Ketika saya melihat kembali ke arah 'mereka', kali ini saya tidak melihat lagi pemandangan tadi, pemandangan saat ini digantikan dengan deretan pepohonan yang terlihat gelap.
Wah.. kacau nih...
Melihat ekspresi wajah Danu, saya yakin menurut penglihatan dia, para 'wanita' itu masih mandi di tengah hutan itu.
Saya menarik tangan Danu dan mengajaknya segera pergi dari sana "Udah ah, ayo jalan!!" kataku.
"Sabar cuy... gila ngeliat bening begitu kagak *sensor* lu? gua uda *sensor* banget nih!!" katanya.
“Ah lu gila, kerjaan kita disini bukan buat ngintipin cewek cuy” kata saya memaksa Danu untuk pergi.
Akhirnya setelah beberapa lama memaksa Danu, akhirnya dia setuju untuk naik ke atas mobil.
Saya segera menginjak gas sekuatnya untuk pergi dari sana.
“Eh.. tapi kayaknya salah satu dari tu cewek mirip si ***** deh” gumam Danu.
“Jangan sembarangan ngomong ah lu” protes saya.
“Perempuan apa pak?” ucap si pemandu tiba-tiba ikut dalam pembicaraan.
“Loh? Bapak enggak liat tadi cewek pada mandi di sungai?” tanya Danu sebelum saya sempat membungkam mulutnya.
Si bapak pemandu terlihat bingung, sesaat kemudian wajahnya terlihat pucat “Maksudnya, bapak-bapak tadi ngelihat ada perempuan lagi mandi?” tanya si Bapak pemandu dengan suara pelan, hampir seperti berbisik.
“Iya! Cakep-cakep pak, bapak rugi malah enggak lihat” cerocos Danu.
Si bapak cuma berbisik ‘Astagfirullah’ kemudian diam seribu bahasa sepanjang perjalanan.
Saya melirik si bapak pemandu sekilas. Dan saya sangat yakin pasti bapak ini mengetahui sesuatu, tapi saat ini dia sama sekali tidak berniat untuk bicara.
Sesampainya di tempat project untungnya semua berjalan dengan baik-baik saja. Hingga tiba jam 4 sore, waktunya kami kembali ke hotel tempat kami menginap.
Keanehan kembali terjadi di sini, si bapak pemandu bersikeras tidak mau ikut dengan kami, dia memilih untuk nebeng dengan orang di plant yang baru akan kembali sekitar jam 7 malam ke kota.
Danu tidak mau ambil pusing, dia memaksa saya untuk segera pulang saja meninggalkan bapak itu di plant. Memang, jalan kembali yang perlu kami tempuh tidak terlalu susah, hanya perlu mengikuti jalan lurus saja sampai di kota.
Kamipun berkendara kembali ke kota.
Sewaktu perjalanan ke kota, saya yang biasanya tidak pernah mengantuk saat mengemudi merasakan rasa lelah yang tiba-tiba menyergap.
“Oh.. sh*t.. kok bisa ngantuk banget ya gue..”
Tidak ada jawaban dari Danu, saya mengira dia tertidur.
“Oi, cumi.. gue ngantuk nih gentian dong” kata saya lagi sambil mengulurkan tangan saya pada Danu hendak menyentuh bahunya untuk membangunkan dia.
Alih-alih mendapati bahu Danu, saya merasakan telapak tangan yang dingin menyambut tangan saya yang diulurkan.
“Anj-… dingin banget apaan tuh..” kata saya sambil menarik tangan saya.
Saya menengok ke arah Danu
Wanjayyyy….[I]
Tampak samar-samar beberapa wujud wanita sedang memegangi dan menggerayangi tubuh Danu. Bayangan mereka tampak samar, tapi saya dapat melihat betapa cantiknya paras dari para wanita itu, yang entah bagaimana, paras mereka tampak seperti bentuk wajah yang merupakan tipeku.
Danu yang berada di tengah-tengah mereka hanya duduk dan memejamkan matanya sambil tersenyum-senyum. Nampaknya anak itu malah menikmati hal ini.
“O..Oi.. Dan…” saya mencoba memanggil Danu.
Para ‘wanita’ itu berbalik tiba-tiba dan menatapku, mata mereka bersinar ungu.
JANGAN GANGGU KAMI!!
Teriak mereka, yang seakan-akan diteriakkan oleh seratus orang lebih.
Suara mereka menimbulkan tekanan yang mendorongku menjauh dari Danu. Sehingga mobil sempat oleng sedikit akibat dorongan itu.
Untuk menghindari kecelakaan, saya memutuskan untuk meminggirkan mobil. Saya harus melakukan sesuatu… tapi jujur, saya tidak tau sama sekali saya harus berbuat apa dalam hal ini.
Saya hanya bisa melihat ke arah Danu yang masih digerayangi oleh para ‘wanita’ tersebut. Wajahnya menunjukkan kenikmatan yang angat sangat, namun warna kulitnya semakin pucat.
“Dan…” saya berbisik.
‘Mereka’ menatapku lagi, tapi tidak mengatakan apapun, hanya pandangan mengancam dari mata mereka yang bersinar ungu memperingati saya.
“Kenapa?” saya mencoba berbisik lagi, tapi bukan ke Danu, saya bertanya pada ‘mereka’.
Para ‘wanita’ itu menatap saya dan tersenyum, kemudian satu per satu wujud ‘mereka’ mulai menghilang sehingga saya dapat menghitung ‘mereka’ sembari menghilangnya mereka, ada tujuh dari ‘wanita’ itu.
Entah mengapa jumlah itu mengganggu saya… sepertinya ada sesuatu yang jauh dari dalam pikiran saya yang ingin menyatakan sesuatu, tapi saya tidak bisa mengingatnya.
Saya menunggu beberapa menit sampai saya yakin kalau ‘mereka’ sudah tidak ada di sini lagi. Baru saya berani menjalankan mobil perlahan-lahan.
Selama perjalanan saya masih berjaga-jaga dengan menoleh ke arah Danu atau terus menerus melihat ke kaca spion. Danu sendiri hanya sempat bangun sebentar, lalu langsung jatuh tertidur pulas tanpa berkata apa-apa. Namun wajahnya masih menunjukkan senyuman puas bahagia dan masih sangat pucat.
Tidak ada apapun yang terjadi sampai kami tiba di perbatasan untuk memasuki kota.
“Kami tidak akan mengganggumu karena temanmu memintanya, sebagai gantinya kami minta dia untuk kami”
Suara itu bergema langsung di telinga saya sehingga membuat saya spontan menginjak rem hingga mobil berhenti mendadak.
“Shi…” saya mengumpat.
Saya melihat sekeliling, tapi tidak tampak siapapun atau apapun.. tidak ada apapun yang menujukkan sumber suara tanpa wujud itu, meskipun saya tahu dengan pasti darimana suara itu berasal.
Dan kata-kata mereka itu…
Danu dalam bahaya, saya harus berbuat sesuatu. Sempat terlintas di pikiran saya untuk menelepon Elisa namun saya mengurungkan niat itu. Meminta bantuan dari ‘wanita’ berbaju putih mengakibatkan bayaran yang ‘mahal’ dan itu harus dibayar oleh Elisa, bukan oleh saya. Saya tidak sampai hati melibatkan gadis itu dalam hal ini…
Saya masih berpikir keras bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini sampai di hotel.
Danu sendiri masih tidak bangun-bangun sesampainya kami di hotel. Tidak sih, dia tidak mati kok, karena suara ngoroknya yang kencang bahkan lebih kencang daripada suara lagu di radio mobil.
Tadinya saya berniat meninggalkan dia di mobil sampai dia terbangun sendiri. Namun mengingat ancaman dari para ‘wanita’ itu, saya merasa lebih aman kalau Danu berada di jarak yang bisa saya awasi.
Jadilah pe-er buat saya untuk separuh menyeret Danu sampai ke kamar. Kepada resepsionis hotel saya menjelaskan Danu tertidur karena mencoba tuak dari penduduk desa. Untungnya dia tidak mencurigai apapun dan membantu saya memanggul Danu sampai ke kamar.
[I]Tobat deh sama ni anak
Baru ketika saya selesai mandi saya baru terpikirkan satu hal yang mungkin saya bisa memberikan saya petunjuk untuk menyelesaikan hal ini.
Si pemandu.
Melihat gelagatnya pasti dia tahu sesuatu mengenai para ‘wanita’ itu. Setidaknya kalau tau sedikit, setidaknya saya bisa berpikir cara untuk mengatasinya.
Mungkin….
Saya mencoba menelepon si bapak pemandu kami.
Tanpa diduga, sambungan telepon langsung diangkat.
“Halo..” suara berat dari sambungan telepon berkata.
“Halo mang *sensor*”
“Ya pak?”
“Maaf ganggu malam-malam begini Mang, begini, saya langsung saja mungkin ya”
“Soal gangguan jin ya pak?” kata bapak pemandu itu memotong ucapan saya.
Saya terdiam mendengar dia sudah mengetahui dengan jelas maksud panggilan saya “Mang sudah tau ya?”
“Iya pak, maaf kali saya tidak berani bicara macam-macam tadi. Takut malah saya yang kena” kata bapak itu “Kalau bisa telepon saya, berarti bapak enggak kenapa-kenapa ya?” tanyanya.
“Saya enggak kenapa-kenapa mang, tapi teman saya nih, tadi kayaknya digangguin dalem tidurnya, sampe sekarang tidur enggak bangun-bangun”
“Emang temannya ngapain pak? Kok sampai bisa begitu? Biasanya cuman ditunjukin doang lho” tanya si bapak, nadanya terdengar bingung dan khawatir.
“Yah, sebenarnya begini mang… - saya menceritakan perihal teman saya mimpi kimpoi dengan para ‘wanita’ cantik dan saya juga ceritakan bagaimana saya dan teman saya melihat para ‘wanita’ yang sedang mandi di pinggiran hutan. Tapi saya tidak menceritakan soal si sosok dengan kepala terlepas itu.. entah mengapa ada sesuatu yang menahan saya untuk mengatakannya…
Si bapak pemandu terdiam sebentar, kemudian berkata “Pak, sepertinya teman bapak disukain sama tujuh bidarari deh”
“Tujuh bidadari?” tanya saya.
“Itu sebutan untuk jin penunggu hutan di sini pak” si bapak terdiam cukup lama, saya bisa merasakan sedikit keraguannya untuk berbicara “Pak, gini deh, saya tidak mampu berkata banyak, pamali pak, mohon bapak bisa menghubungi sepuh di sini saja, semoga dia bisa bantu”
Saya menimbang sejenak.. tampaknya mau tidak mau deh kalau sudah begini “Oke mang, bagaimana saya bisa menemui pak sepuh itu?”
“Bapak telepon saja handphonenya pak, namanya Mang ******, nanti saya SMS teleponnya”
Wuih… canggih juga jaman sekarang ya.. udah serba Handphone.
“Oke mang, terimakasih sebelumnya ya”
“Sama-sama pak, saya sms ya” kata bapak itu sambil memutus sambungan telepon.
Tidak lama, sebuah pesan berisikan nomor telepon sepuh itu dikirimkan oleh bapak pemandu itu.
Namun hari sudah sangat malam, sekitar jam 10, arena itu saya memutuskan untuk meneleponnya besok pagi saja. Toh Danu masih saja tertidur sampai sekarang.
Yahh… tapi seperti biasanya, ‘mereka’ itu selalu datang dengan timing yang “sempurna” deh.
Seperti kemarin malam, tiba-tiba jendela kamar kami tersentak membuka bersamaan dengan masuknya angin-angin dingin.
Bedanya hanya, kali ini angin dingin itu berbentuk bayangan dari tujuh ‘wanita’ yang melayang masuk dan langsung menghampiri Danu.
“!!” saya hendak berteriak memanggil Danu, namun ‘sesuatu’ menahan tubuh saya.
Saya tidak bisa menggerakkan tubuh saya, tapi saya merasakan sebuah tangan menyentuh bahu kiri saya.
“!!” saya berusaha berontak namun tubuh saya tidak bisa bergerak dan suara saya tidak bisa keluar.
Dari sisi kanan tubuh saya, sekelebat bayangan melesat ke hadapan saya.
Sebuah tangan yang merenggut rambut dari kepala yang menggantung di ujung rambut itu menatap saya.
[I]ya.. Tuhan….[I]
Wajah mengerikan dengan tengkorak hancur separuh itu tergantung di hadapanku. Semburat berwarna merah dari wajah keunguan itu bergerak-gerak bagaikan urat nadi yang bergerak-gerak.
Mulut ‘mahluk’ itu bergerak.
‘Jangan ganggu anak-anakku makan’
Kemudian sekali lagi semuanya menjadi gelap..
Bersambung lagehh... sorry abis ceritanya panjang seh.. 3 hari getoohh
