Niken : " tuh kan gw udah mrinding nih rasanya zul , tiap ke sini pasti kayak gini terus "
Zul : " iya nik , aneh banget hawanya... "
di hadapan kami gerbong itu teronggok dan terbuka bagian pintunya , namun tak satupun dari kami yang berani memasukinya.... kami merasa tidak tahan dengan pancaran hawa anehnya dan memilih untuk melihat dari jarak agak jauh saja.
Steve : " ini namanya residual tragedi mbak "
Niken : " energinya peristiwa tragis gitu ya stiv ?! "
Steve : " ada 46 arwah gentayangan terperangkap di dalam gerbong , akumulasi energinya gede makanya bisa dirasain "
Niken : " duh... tapi kok gak ada penampakannya ya ?!.. gw udah siap moto nih "
Steve : " masalahnya masih siang mbak , coba kalau malam pasti ada yang nongol "
Niken : " masalahnya kalo malam ditutup sih museumnya , gimana mau uji nyali ke sini "
aku cukup yakin dengan ucapan Steve barusan , pastilah 46 arwah para tahanan itu masih berada di dalam gerbong dan menyebabkan hawanya jadi terasa aneh..... berhubung museum ini tutup saat malam hari maka satu satunya cara untuk membuktikannya adalah dengan melakukan astral projection.
Me : " ndik ngko bengi rogo sukmo ndek kene eyip ?! "
(ndik ntar malem astral projection ke sini gimana ?!)
Pendik : " aku yo pengen weruh vig , tapi wedi nek pethuk arwahe "
(aku juga pengen tau vig , tapi takut kalo ketemu arwahnya)
Me : " lapo wedi ?!.. gak sah wedi kon "
(kenapa takut ?!... gak usah takut kamu )
Niken : " lu mau astral projection ke sini vig ?! "
Me : " iya nik , penasaran gw "
Niken : " duh.. coba gw bisa kayak lu vig "
Zul : " sial ya nik kita gak bisa astral projection "
Me : " ntar gw ceritain kalo udah kelar dari sini "
Steve : " malam ini juga mas ?! "
Me : " piye ndik siap kon ?! "
Pendik : " oyi vig , pokoke tak kuat kuatno ben gak wedi "
(oyi vig , pokoknya aku kuat kuatin biar gak takut)
Me : " kita astral projection malam ini stiv "
Kurasa nanti malam adalah waktu yang tepat untuk astral projection ke museum ini , aku merasa semakin tak sabar untuk membuktikan keberadaan arwah para tahanan di dalam gerbong maut itu.
Tepat pada saat tengah malam aku , Pendik dan Steve telah melepaskan sukma dari tubuh masing masing.... kini kami melayang layang belasan meter di atas daerah Tlogomas dan langsung bablas terbang ke arah jl Veteran.
Pendik : " aku kok gak iso miber dhewe yo vig ?!.. kudu dicekeli terus "
(aku kok gak bisa terbang sendiri ya vig ?!... mesti dipegangin terus)
Me : " lha piye terah kon sek lagek iso mlebu alam astral lho "
(lha gimana emang kamu baru bisa masuk alam astral lho)
memang merepotkan jika harus terbang dengan memegangi tangan Pendik secara terus terusan , tapi jika aku melepaskannya maka sukmanya akan langsung melayang terhembus angin dan ia sama sekali tak punya kontrol apapun untuk terbang seperti aku dan Steve.... maklum saja sebagai pemula sukmanya masih belum beradaptasi dengan kondisi alam astral yang bebas gravitasi.
Steve : " kita mau nyampe mas !! "
Me : " oyi stiv "
Pendik : " aku rodok wedi vig "
(aku agak takut vig)
Me : " santai wae kon ! "
Steve : " kita terbang rendah mas ! "
Me : " oyi "
setelah melewati beberapa komplek kampus kini kami bertiga telah berada di jl Ijen yang tampak begitu lengang , di kiri kanan kami adalah deretan perumahan elite dan di tengah tengah jalan dibatasi oleh taman bunga.... selepas melewati gereja kamipun tiba di halaman museum Brawijaya yang tampak remang.
Steve : " kita mendarat di patung dulu mas "
Me : " oyi "
segera saja kami mendarat tepat di patung kolonel pur. dr. Soewondo sang pendiri museum ini dan sejenak kami mengamati keadaan di halaman depan ini , beberapa kendaraan perang tua macam tank dan artileri terpajang di sini dan tampak menambah kesan mistis dari museum ini.
Steve : " kita langsung liat gerbong apa masuk museum mas ?! "
Me : " di dalem ada arwahnya juga stiv ?! "
Steve : " ada banyak mas , rata rata tentara jepang "
Pendik : " aku takut stiv "
Me : " langsung ke gerbong aja stiv , gw penasaran sama itu doang "
Steve : " ayo ikutin aku mas "
kini Steve melayang di atas atap museum sementara aku dan Pendik mengikutinya dari belakang , tak lama kemudian kami tiba di halaman belakang tempat di mana gerbong maut itu berada.
Pendik : " aku wedi vig "
Me : " lapo wedi ndik ?!.. dadi uwong ojok weden kon "
(kenapa takut ndik ?!...jadi orang jangan penakut kamu)
Steve : " ayo ndarat mas "
tanpa buang waktu kami segera mendarat tak jauh dari lokasi gerbong maut itu , sebelum akhirnya kami dikejutkan dengan suara erangan kesakitan yang terdengar sayup sayup dari dalam gerbong. " aahh...ahh..panas.. njaluk banyu...panas..."
Pendik : " waduh vig "
Me : " santai ndik "
Steve : " kita jalan sekarang ! "
dengan langkah gamang kami bertiga melangkah mendekati gerbong itu " aaduhh.... ttulung... loro kabeh... panass...." suara erangan yang menyakitkan itu terdengar makin jelas saja dan agak menciutkan nyali kami.
Steve : " siap mas ?! "
Me : " siap ! "
Pendik : " takut stiv "
Steve : " kita jalan lagi "
kegamangan semakin terasa seiring langkah kami yang kian mendekati gerbong , tak lama kemudian kami dikejutkan dengan sesuatu yang terlihat dari pintu gerbong yang terbuka..... dengan pencahayaan remang dari lampu mercuri di atap asbes kami dapat melihat segerombolan orang yang mengenakan baju lusuh , mereka tampak saling tumpang tindih dan sesekali menggerak gerakkan tangan atau kepalanya dengan lemas , namun jarak yang masih kejauhan membuat kami kurang begitu jelas melihat kondisi fisik mereka
Pendik : " vvig ?!?.. wancik vig ?!.. iku ??!! "
Steve : " tenang mas , mereka ngga bahaya.. ayo deketan lagi "
semakin dekat langkahku dengan gerbong itu semakin membuat nyaliku naik turun tak menentu... rasa takut dan penasaran bercampur aduk jadi satu.
Pendik : " ojok vig , aku wedi "
Steve : " tenang mas , gak bahaya kok "
kucoba untuk menyingkirkan rasa takutku saat berjalan mendekati gerbong berwarna hitam putih itu , " ahh...panass.. ttulung njaluk banyu....ahh...pengen metu...." lagi lagi suara erangan itu terdengar makin nyaring namun aku memilih untuk menghiraukannya.
Steve : " berhenti sini mas "
Me : " oyi "
dari jarak tak lebih dari 2 meter kami berdiri mematung sambil terpana menatap isi gerbong itu , apa yang terlihat di hadapan kami tampak lebih jelas lagi dan ternyata ada lebih banyak orang di dalam gerbong.... mereka tampak tertelungkup dan saling tumpang tindih satu sama lain di atas lantai gerbong , selain itu mereka hanya bisa menggerakkan tangan dan kepala saja sambil terus mengerang kesakitan " ahh...loro kabeh... pengen metu...panass...panass... " sejujurnya aku semakin tak tahan mendengar erangan mereka yang begitu menyayat hati dan juga bau busuk yang begitu menyengat , belum lagi jika melihat wujud mereka yang mengerikan sekaligus menjijikkan..... hampir seluruh permukaan kulit mereka mengelupas dan penuh borok menjijikkan , terutama bagian muka dan kepalanya yang berupa tengkorak berlumuran darah kering dan juga nanah , sementara bola matanya tampak melotot seolah menyiratkan penderitaan yang teramat sangat.
Pendik : " iiku vig ?!... iku tahanane ?! "
Me : " iyo ndik , medeni yo !! "
meskipun merasa ngeri namun ada kepuasan tersendiri saat aku bisa melihat seperti apa wujud penghuni gerbong maut itu , tuntas sudah rasa penasaran yang selama ini mengusikku setiap kali mengunjungi museum ini.... gerbong maut yang biasanya tampak kosong melompong itu ternyata benar benar penuh sesak oleh mereka yang tak kasat mata.
